Minggu, 22 Februari 2009

Cerita Pendek | Tetanggaku Idolaku

Aku punya tetangga di sebelah kanan depan rumahku, bentuk rumahnya kotak persegi tapi agak miring sedikit. Berdinding "gamacca" (yang terbuat dari anyaman bambu) berlantaikan tanah beratapkan tripleks yang memiliki banyak lubang sehingga ketika hujan menggempur banjirlah rumahnya. Aku ingat ketika suatu hari hujannya sangat lebat. Di balik jendela kamarku yang memang bisa melihat luas di sekeliling depan rumah, aku melihat mereka berempat yang terdiri ayah, ibu, dan dua anak sepasang duduk berjejer sambil asyik bercanda ria di atas sebuah meja dalam rumahnya. Dari jauhpun mereka dapat langsung dilihat karena memang tidak memiliki pintu. Mereka duduk di atas meja kusang itu untuk menghindari genangan air yang masuk dalam rumahnya mungkin setinggi lutut orang dewasa.

Kampung kami memang sarangnya orang miskin, tapi mereka sekeluarga itu mungkin yang paling termiskin. Bapaknya sudah tidak bisa bekerja lagi karena sakit-sakitan, aku dengar sih penyakitnya komplikasi serangan jantung, stroke, asam urat. Yah pokoknya semua penyakit orang kaya dia derita.
Ibunya sebenarnya punya kerjaan itupun paruh waktu saja di hari sabtu dan minggu sebagai tukang cuci pakaian tetangga, kalau hari biasa kurang dan jarang. Shiva anak perempuannya yang sering bantu ibunya sedangkan Salman jika pagi jual koran dan malam jadi pengamen. Anak yang masih di bawah umur ini selayaknya duduk di bangku sekolah untuk mengenyam pendidikan. Kasihan mereka.

"Farid...!!!, jelas skali suara ibuku ini. Iya bu. "Ini pakaian kotor kasih ibunya Shiva yah, sekalian ini beras 3 liter berikan juga". Ibu menyodorkan sekeranjang pakaian kotor dengan sekantong plastik hitam yang katanya isinya beras. Aku beranjak ke rumah pak Abdi. "Ibunya Shiva...!", teriak aku dari luar rumahnya. "ini ada pakaian kotor tolong dicuciin yah", sambil menyodorkan keranjang pakaian dan sekantong plastik. "Ini kantongan isinya apa, wah terima kasih banyak rid, semoga Allah membalas kebaikan kalian sekeluarga". "Amin..!", sahutku dalam hati. "Adik shiva dan Salman dimana ?", Oh Shiva ada di dalam kalau Salman lagi jualan koran". Gimana bapak bu ?". Yah masih gitu-gitu aja. Aku menatap mata ibu Shiva, kulihat ke dalamnya ada suatu titik cahaya suatu tanda keikhlasan dalam menghadapi cobaan hidupnya. Mata ini sungguh indah, hitam kecoklatan dengan garisan hitam di bagian bawah kelopaknya. Tampaknya ibu Shiva kurang tidur. Mungkin dia begadang jagain suaminya. "Kalau begitu aku pulang dulu yah salam buat Shiva dan Salman". Aku pamit pada Ibu Shiva.

Sekitar tiga meter dari rumahnya, aku lihat Salman berlari ke arahku maksudku ke arah rumahnya. ""Ada apa man...? kayaknya senang banget ?", aku cegat dia. "Koranku ludes kak, pertama kalinya bisa habis terjual. Biasanya sisa setengah".Salman menyahut sambil melemparkan senyum yang sangat alami. Senyum anak orang miskin yang begitu indah dan meyejukkan hati. Entah perasaan apa yang kurasa ketika adik salman ini tersenyum. Aku suka senyumannya, gigi kuning hitam yang rata, dengan bibir yang tipis kusam itu sungguh bikin aku terpesona. Kemudian menghampiri ibunya yang masih berdiri di depan rumahnya yang asyik memindahkan beras di kantongan tadi ke baskomnya. Aku balik memperhatikan mereka berdua sambil tersenyum. Ibunya memeluk Salman lalu mencium keningnya. Sungguh adegan menarik. Mereka tertawa lepas. Mereka tampak mensyukuri rezeki yang diperolehnya.

Keluarga yang sangat bahagia...
"Bukankah hidup ini cuma kebahagiaan yang kita cari. Kebahagiaan dunia dan akhirat itulah tujuan kita. Walaupun ditakdirkan hidup tak berkecukupan, hidup apa adanya. Namun jika kita tetap bersyukur menghadapi jalannya roda nasib ini Insya Allah kebahagiaan akan datang menghambur".

Aku perlu belajar banyak dari mereka, aku sebut mereka tetanggaku idolaku. Sebenarnya keluargaku juga termasuk kalangan miskin. Namun tak semiskin keluarga pak Abdi. Aku yang pengangguran ini dan Ibu, cuma mengandalkan gaji pensiunan PNS mendiang ayahku. Untung aku nggak punya saudara. Jadi nggak terlalu banyak pengeluaran. Yang jelas udah pas untuk kebutuhan makan sehari-hari.

Malam ini suntuk banget, asap terus mengepul di kamarku, kadang berbentuk love, kotak, atau yang kebanyakan bulat-bulat. Dan menari-nari di atas kepalaku menuju jendela kamarku yang terbuka lebar. Ibu lelap sekali tidurnya sampai-sampai ngoroknya kedengaran dari kamarnya. Yah jelas kedengaran, dinding batas kamarku dengan Ibu cuma tripleks doang. Bahkan jengkrik-jengkrik mungkin juga sudah tidur, aku sudah tidak mendengar mereka mengerik dibalik bebatuan itu. Kulirik jam di dinding yang debunya sedikit menutupi nomor-nomor tiga, empat, dan lima. Jarum pendeknya mengarah antara jam tiga, empat, atau lima. Aku perkirakan saja jam 4 pagi. Aku beranjak menuju jendela kamarku, uh dingin...hembusan angin yang sejuk. Aku tengok kiri kanan. Sepi...! Kulihat rumah pak Abdi yang makin hari aku perhatikan sudah bukan berbentuk persegi lagi namun yang kulihat sekarang ini sudah jajaran genjang. Gelap sekali rumahnya. Sebenarnya itu rumah layak disebut kandang sapi. Kasihan mereka hidup tak berkecukupan. Namun yang bikin aku salut karena mereka tak pernah mengeluh tentang keadaannya.

Dikeheningan ini tiba-tiba saja aku kepikiran untuk mencari kerja. Selama ini aku cuma malas-malasan di rumah, kerjanya cuman makan dan tidur. "Ayo semangat Farid, buktikan kalau kamu bisa menjadi orang yang berguna untuk semua orang terkhusus Ibu kamu !", Ada yang berbisik di sudut pikiranku.

Sayur..sayur...sayur...!!!
Waduh bangun siang lagi nih, selalu saja tukang sayur itu yang bangunin. Gimana nggak bangun, suaranya seperti harimau waktu nguap. Bisa kedengaran satu kampung. Kebiasaan ini susah sekali aku tinggalkan. Aku harus mengubah kebiasaan buruk ini. Aku bangun dari tempat tidur menuju jendela kamarku sambil mengangkat kedua tanganku dan mulut menganga lebar. Aku menguap. Kulihat Ibu di depan rumah bersama tetangga mengerumuni jajanan tukang sayur itu. Aku juga melihat Salam bermain kelereng dengan teman sejawatnya. Ibunya sedang menjemur pakaian. "Astaga...! itu celana dalamku, kok ibu juga masukin di keranjang sih. Sudah saya bilang nanti aku yang cuci sendiri". "Aku mencium bau bangkai, busuk skali. hmm, dari ketiak aku. Bergegas aku mandi dan sarapan.

"Bu aku keluar dulu yah, mau cari kerjaan. Doain semoga dapat". Sambil mencium tangan kasar ibuku. "Baguslah kalau kamu sudah bisa berpikiran seperti ini. Insya Allah jika niat kita baik, Allah akan slalu memberi kemudahan".

Aku cuma bisa berusaha semampuku meski tak tahu nantinya baik atau tidak. Seperti yang telah dijalani keluarga pak Abdi itu. Mereka tetap tersenyum dan ikhlas, walaupun goresan nasib baik tak selalu berpihak dan rezeki dari Allah yang jarang berkunjung.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar