Rabu, 28 Januari 2009

Cerita Pendek | Aku Ikhlas Tuhan

Aku datang pada moment yang tepat. Membawa sebuah harapan untukmu. Ketika kamu mengalami badai cinta yang sangat dahsyat. Mungkin Tuhan mengirimku untukmu.Pada masa transisi ini, adalah hal yang sangat berat untuk kujalani, Aku tahu kamu masih mencintainya meskipun dia sudah meluluhlantakkan pondasi cintamu. Aku tahu kamu masih memikirkannya, Aku tahu itu...

Akupun terus bertanya pada diri sendiri, mengapa kamu sulit untuk melupakannya. Hingga akhirnya waktu pun menjawab. Ketika pada suatu kesempatan itu tepatnya di kantin kampus, setelah makan bersama dengannya, dia memberikan suatu pertanyaan yang agak aneh menurutku dengan wajah yang serius. Pertanyaannya seperti ini, " Sayang, Tahu tidak kenapa harga kue di Mall itu lebih mahal dibanding kue yang di jual di pasar?padahal kuenya sama persis". Aku cuma diam sejenak dengan mengerutkan dahi menatapnya kemudian berkata, "Jelaslah beda harganya, kan orang-orang suka yang bersih dan higinis jadi biarpun agak mahal, orang lebih memilih yang bersih, ngga sama yang di jual di pasar yang ngga bisa dijamin kebersihannya". Dia tampak serius menyimak jawabanku itu. Aku kaget melihat matanya berkaca-kaca, yang tinggal dikedipkan maka akan tumpah ruah air matanya. Aku cuma bisa bilang, "kenapa sayang ada yang salah dengan ucapanku barusan?". Dia cuma diam menatapku yang juga dengan sendirinya air matanya mengalir tak tertahankan. Dia memegang tanganku erat-erat, air matanya masih terus mengalir tanpa paksaam.

"Sayang, aku ini adalah kue yang berada di pasar itu tidak sama dengan kue yang di Mall itu yang terbungkus dengan rapi sehingga kelihatan bersih. Aku tidak seperti yang kamu bayangkan, maafkan aku, aku kotor aku tidak suci lagi, dia sudah memodifikasi aku menjadi seperti ini...Sayang kamu tahu maksud aku kan ? kenapa kamu masih duduk di tempat ini ? "

Diam...hening...sekitar 10 menit serasa waktu ini berhenti berjalan...

Aku tak tahu mau bilang apa, aku shock, hatiku hancur dan tulang-tulangku serasa retak smua. nafasku tidak beraturan. tak kurasa air mataku menetes juga. Tuhan apakah Engkau benar-benar mengirimkanku untuknya ? dari awal aku melihatnya, mengenalnya, jantung ini slalu saja berdebar jika bersamanya, aku sangat mencintainya. Mungkin inilah arti cinta yang sebenarnya, yah kali ini aku mengalaminya, Cinta yang sejati Cinta yang tidak menuntut kesempurnaan. Perasaan ini betul-betul saya rasakan.

Aku ikhlas Tuhan menerimanya apa adanya, walaupun sulit untuk menyikapi kenyataan pahit ini. Aku Ikhlas Tuhan, Aku Ikhlas Tuhan, Aku Ikhlas Tuhan...
Sekian...




Tidak ada komentar:

Posting Komentar