Ketika Tuhan menciptakan wanita, DIA lembur pada hari ke-enam.
Malaikat datang dan bertanya,”Mengapa begitu lama, Tuhan?”
Tuhan menjawab:“Sudahkan engkau lihat semua detail yang saya buat untuk menciptakan mereka?"
“2 Tangan ini harus bisa dibersihkan, tetapi bahannya bukan dari plastik. Setidaknya terdiri dari 200 bagian yang bisa digerakkan dan berfungsi baik untuk segala jenis makanan. Mampu menjaga banyak anak saat yang bersamaan. Punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan, dan semua dilakukannya cukup dengan dua tangan ini”
Malaikat itu takjub.
“Hanya dengan dua tangan?....impossible!“
Dan itu model standard?!
“Sudahlah TUHAN, cukup dulu untuk hari ini, besok kita lanjutkan lagi untuk menyempurnakannya“.
“Oh.. Tidak, SAYA akan menyelesaikan ciptaan ini, karena ini adalah ciptaan favorit SAYA”.
“O yah… Dia juga akan mampu menyembuhkan dirinya sendiri, dan bisa bekerja 18 jam sehari”.
Malaikat mendekat dan mengamati bentuk wanita-ciptaan TUHAN itu.
“Tapi ENGKAU membuatnya begitu lembut TUHAN ?” “Yah.. SAYA membuatnya lembut. Tapi ENGKAU belum bisa bayangkan kekuatan yang SAYA berikan agar mereka dapat mengatasi banyak hal yang luar biasa.“
“Dia bisa berpikir?”, tanya malaikat.
Tuhan menjawab:
“Tidak hanya berpikir, dia mampu bernegosiasi."
Malaikat itu menyentuh dagunya....
“TUHAN, ENGKAU buat ciptaan ini kelihatan lelah & rapuh! Seolah terlalu banyak beban baginya.”
“Itu bukan lelah atau rapuh....itu air mata”, koreksi TUHAN
“Untuk apa?”, tanya malaikat
TUHAN melanjutkan:
“Air mata adalah salah satu cara dia mengekspressikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan dan kebanggaan.”
“Luar biasa, ENGKAU jenius TUHAN” kata malaikat.
“ENGKAU memikirkan segala sesuatunya, wanita ciptaanMU ini akan sungguh menakjubkan!"
Ya mestii…!
Wanita ini akan mempunyai kekuatan mempesona laki-laki. Dia dapat mengatasi beban bahkan melebihi laki-laki.
Dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri.
Dia mampu tersenyum bahkan saat hatinya menjerit.
Mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa saat ketakutan.
Dia berkorban demi orang yang dicintainya.
Mampu berdiri melawan ketidakadilan.
Dia tidak menolak kalau melihat yang lebih baik.
Dia menerjunkan dirinya untuk keluarganya. Dia membawa temannya yang sakit untuk berobat.
Cintanya tanpa syarat.
Dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang.
Dia girang dan bersorak saat melihat kawannya tertawa.
Dia begitu bahagia mendengar kelahiran.
Hatinya begitu sedih mendengar berita sakit dan kematian.
Tetapi dia selalu punya kekuatan untuk mengatasi hidup.
Dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka.
Hanya ada satu hal yang kurang dari wanita:
DIA LUPA BETAPA BERHARGANYA DIA
Silahkan download tampilan visualnya dengan powerpoint di sini
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Jumat, 31 Juli 2009
Kamis, 30 April 2009
Cerita Pendek | Mencari Tuhan

Malam ini entah malam keberapa aku duduk di taman ini. Aku sengaja menyepi dan menepi. membiarkan tubuh kasarku larut dalam embun pagi, larut dalam bau wangi taman, larut dalam hembusan angin. Tapi sungguh mati, aku tak tahu apakah batinku juga ikut larut dalam alam sekelilingku. Ah persetan!
Kutatap langit di atas kepalaku. Di sana sepotong rembulan tersenyum ringan. ia lalu mendekap dan berbisik lirih, hai lelaki kesepian, apa yang kau cari di tanam itu?"
"Tuhan!",
"Kau cari Tuhan?"
"Ya benar, aku cari Tuhan"
"hmm...mencari Tuhan?" ia tersenyum. Senyumnya membias kecut.
"Kau cemburu?" tanyaku.
"Aku cemburu?" ia tersenyum lalu tertawa ngakak..ha ha ha..
"kalau tidak cemburu kenapa mengusikku"
"hei lelaki kesepian, apakah hari ini Tuhan tak bersamamu?"
"Entahlah..."
"Lihatlah bunga-bunga itu, lihatlah daun-daun yang ada di sekelilingmu. Tuhan ada di situ!"
Aku menoleh memeriksa segala yang ada di depan mataku. Ada ratusan atau mungkin seribuan bunga di taman ini. Kupetik salah satu diantaranya. Kucium bau wanginya, kuraba lekuk-lekuknya. "Benarkah ada Tuhan di sini?" Aku membatin.
"Hai lelaki kesepian, kau telah temukan Tuhan di pucuk bunga itu?"
"Tidak"
"Kau tak akan menemukan Tuhan di puncak bunga itu, jika kau tak menyatu dengannya."
"Menyatu?" Apa itu?"
"Ah dasar lelaki goblok. Kau bodoh!", ejeknya lalu tertawa.
"Kalau Tuhan ada di sini tolong tunjukkan di mana Dia?" tanpa sadar, aku ternyata telah mengiba. Tapi ia justru meninggalkanku. Menyatu dengan mendung. Aku kehulangan. Sepotong rembulan itu hanya mengirimkan sepotong sajak.
Sampai di rumah kugali sepotong sajak itu. Ternyata aku telah berbulan-bulan melupakan bunga di tubuhku. Isteri dan anak-anak telah lama kutinggalkan karena sibuk menyepi dan menepi. Pantas hari ini Tuhan tak kutemukan. Pantas Tuhan tak bersamaku karena Dia telah lama tergolek lesu di pucuk-pucuk bungaku.
Kutatap langit di atas kepalaku. Di sana sepotong rembulan tersenyum ringan. ia lalu mendekap dan berbisik lirih, hai lelaki kesepian, apa yang kau cari di tanam itu?"
"Tuhan!",
"Kau cari Tuhan?"
"Ya benar, aku cari Tuhan"
"hmm...mencari Tuhan?" ia tersenyum. Senyumnya membias kecut.
"Kau cemburu?" tanyaku.
"Aku cemburu?" ia tersenyum lalu tertawa ngakak..ha ha ha..
"kalau tidak cemburu kenapa mengusikku"
"hei lelaki kesepian, apakah hari ini Tuhan tak bersamamu?"
"Entahlah..."
"Lihatlah bunga-bunga itu, lihatlah daun-daun yang ada di sekelilingmu. Tuhan ada di situ!"
Aku menoleh memeriksa segala yang ada di depan mataku. Ada ratusan atau mungkin seribuan bunga di taman ini. Kupetik salah satu diantaranya. Kucium bau wanginya, kuraba lekuk-lekuknya. "Benarkah ada Tuhan di sini?" Aku membatin.
"Hai lelaki kesepian, kau telah temukan Tuhan di pucuk bunga itu?"
"Tidak"
"Kau tak akan menemukan Tuhan di puncak bunga itu, jika kau tak menyatu dengannya."
"Menyatu?" Apa itu?"
"Ah dasar lelaki goblok. Kau bodoh!", ejeknya lalu tertawa.
"Kalau Tuhan ada di sini tolong tunjukkan di mana Dia?" tanpa sadar, aku ternyata telah mengiba. Tapi ia justru meninggalkanku. Menyatu dengan mendung. Aku kehulangan. Sepotong rembulan itu hanya mengirimkan sepotong sajak.
Jika kau ingin bertemu dengan Tuhan,
Taburkanlah bunga di hatimu.
Jika kau rindu dengan Tuhan,
Tanamlah bunga di setiap lekuk-lekuk tubuhmu.
Hari ini Tuhan tak bersamamu
Karena kau lupa dengan bunga-Nya.
Sampai di rumah kugali sepotong sajak itu. Ternyata aku telah berbulan-bulan melupakan bunga di tubuhku. Isteri dan anak-anak telah lama kutinggalkan karena sibuk menyepi dan menepi. Pantas hari ini Tuhan tak kutemukan. Pantas Tuhan tak bersamaku karena Dia telah lama tergolek lesu di pucuk-pucuk bungaku.
"Maafkanlah aku Tuhan."
"Maafkan aku wahai bungaku"
Senin, 16 Maret 2009
Cerita Pendek | Perempuan Buta Di Tepi Pantai

Gulungan ombak membuncah menampar karang yang berduri tajam. Aku berdiri di atas karang yang menjulang itu, yang menjorok ke luar seperti ingin menelan ombak itu. Aku membentangkan kedua tanganku dan menengadah ke langit yang lebam kemerahan sambil menarik nafas sedalam-dalamnya kemudian kukeluarkan. Aku mengulanginya banyak kali. Perasaan yang begitu lega, kukeluarkan saat ini juga. Di pantai yang pasirnya terus saja berbisik ini kulepaskan semua beban yang akhir-akhir ini mengguncangku.
Tiap masalah yang sudah terselesaikan aku pasti ke pantai ini, menghambur tepi pantai di atas karang sambil meneriakkan sesuatu yang maksudnya adalah kelegaan. Namun di setiap aku berada di sini aku juga pasti melihat perempuan itu berdiri tak jauh dariku mungkin sekitar 50 meter dariku sejajar dengan tempatku selalu berdiri di atas karang ini. Perempuan itu berdiri di atas sebuah kayu besar, bekas serpihan perahu yang belum jadi. Kadang juga jongkok sesekali mungkin kecapean berdiri berjam-jam. Tiap aku meliriknya, dia tetap saja memandang bentangan cakrawala itu yang memangku kita ini. Perempuan itu kayaknya seumuran denganku sekitar 30an. Posturnya agak tinggi namun tak ada lekukan. Seperti tiang listrik. Entahlah mungkin kebetulan, atau memang perempuan itu tiap hari di tepi pantai ini. Tiap aku berada di pantai ini tetap saja aku juga melihat perempuan itu dengan rutinitasnya menatap hamparan laut.
Rasa keinginantahuku membuatnya menjadi misteri di mataku. Kadang aku berpikir apakah aku mau menyapanya lalu menanyakan bahwa apa yang anda lakukan di sini tiap hari. Hingga pada suatu saat aku memberanikan diri untuk mendatanginya. Aku mendekat dan tepat selangkah berada di belakangnya. "Senja telah patah dan berguguran meninggalkan bekas lebam di langit, masihkah anda di sini? menanti apakah gerangan?", dengan lancang aku menegurnya. Kemudian dibalas dengan keheningan mungkin celotehku langsung terikut oleh angin yang berhamburan. Mungkin tak didengarnya atau mungkin juga memang malas menjawabnya. Perempuan itu tetap saja diam dan kemudian menghanyutkanku juga. "Maafkan aku jika telah menggangu anda, saya akan pergi".
Perempuan itu tetap saja diam, menolehpun tidak sama sekali. Aku semakin penasaran, Dia hampir sama tinggi denganku, tapi tubuhnya tak berisi dan sangat ramping. Wajahnya lumayan manis, tapi tetap memancarkan pancaran tak beraura. Kosong...
Ada apa dengan perempuan itu, betapa hebat mungkin masalah yang dia hadapi. Aku yang juga sering punya banyak masalah tak seserius amat dengan berlamaan berdiri mencongkak di tepi pantai itu.
Baru sekitar tiga langkah beranjak darinya, aku melihat adik kecil berlari menuju ke arah kami. Membawa botol air mineral. Tampaknya sangat akrab, wajahnya mirip sama perempuan itu. Pasti adiknya. Adik kecil itu langsung mengagetkan perempuan itu, dengan berkata, "kak, udah mau magrib, ayo pulang. Besok lagi ke sini". Sambil menarik tangan kanan perempuan itu kemudian menaruh di pundaknya. lalu berjalan dengan pelan. Seperti orang tua jompo saja yang sudah ngga bisa lagi berjalan sendiri. Tampaknya seperti ada yang lain dari perempuan itu. Apakah dugaanku salah yah, apa dia buta?. Tidak salah lagi tampaknya memang perempuan itu buta. Aku cukup lama berdiri mematung memerhatikan mereka berjalan sampai ujung rambut mereka tak kelihatan lagi.
Aku semakin penasaran, ingin sekali mengenalnya. Aku suka pantai, dia juga suka pantai. Aku tiap seminggu ke sini, namun mungkin dia tiap hari di sini. Perempuan buta itu terus mengusik khayalku. Besok aku harus ke pantai ini lagi. Mungkin adik kecilnya bisa memberitahuku apa yang sebenarnya dialami perempuan itu dengan terus berdiri di tepi pantai itu seakan sedang menanti seseorang.
Keesokan harinya ketika senja belum tampak, aku sudah berada di tempat favoritku ini. Sengaja aku datang lebih cepat. Perempuan itu sudah membuatku penasaran. Tak lama kemudian aku sudah melihat mereka. Mereka tampak berbincang sesuatu dan selintas adik kecil itu meninggalkan perempuan itu. Langsung saja aku berlari mengejar adik kecil itu dan mencegatnya. "Dik, perempuan itu tiap hari di situ bikin apa yah? maafin kakak sebelumnya. Aku orang baik-baik kok. Jangan takut". "Ouh, kakak saya semenjak ditinggal tunangannya akibat kapalnya tenggelam di tengah laut, berubah jadi pendiam dan sekarang menjadi buta karena pernah membenturkan kepalanya ke tembok akibat penyesalan telah kehilangan lelaki yang disayangnya".
Aku bisa merasakannya, yah aku bisa. Sangat dahsyat, sungguh hancur hatinya. Tuhan, berikan dia jalan terang. Betapa jahatnya Engkau, tak kasihan kah melihat hamba-Mu yang satu ini. Sadarkanlah dia. Tepuklah pundaknya. Bangunkan dia.
Haruskah lewat aku Tuhan.
Hari demi hari, senja berganti senja, aku terus menemaninya berdiri di tepi pantai. namun dia tetap saja tak bergeming walau seribu kata telah terucap untuk mengajaknya ngobrol. "Aku mencintaimu...!, Tuhan telah mengirimku ke sini untukmu, menemanimu, menjagamu, menyayangimu. Kita sudah ditakdirkan.
*)Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
*)Sajak oleh Sapardi Djoko Damono
Tiap masalah yang sudah terselesaikan aku pasti ke pantai ini, menghambur tepi pantai di atas karang sambil meneriakkan sesuatu yang maksudnya adalah kelegaan. Namun di setiap aku berada di sini aku juga pasti melihat perempuan itu berdiri tak jauh dariku mungkin sekitar 50 meter dariku sejajar dengan tempatku selalu berdiri di atas karang ini. Perempuan itu berdiri di atas sebuah kayu besar, bekas serpihan perahu yang belum jadi. Kadang juga jongkok sesekali mungkin kecapean berdiri berjam-jam. Tiap aku meliriknya, dia tetap saja memandang bentangan cakrawala itu yang memangku kita ini. Perempuan itu kayaknya seumuran denganku sekitar 30an. Posturnya agak tinggi namun tak ada lekukan. Seperti tiang listrik. Entahlah mungkin kebetulan, atau memang perempuan itu tiap hari di tepi pantai ini. Tiap aku berada di pantai ini tetap saja aku juga melihat perempuan itu dengan rutinitasnya menatap hamparan laut.
Rasa keinginantahuku membuatnya menjadi misteri di mataku. Kadang aku berpikir apakah aku mau menyapanya lalu menanyakan bahwa apa yang anda lakukan di sini tiap hari. Hingga pada suatu saat aku memberanikan diri untuk mendatanginya. Aku mendekat dan tepat selangkah berada di belakangnya. "Senja telah patah dan berguguran meninggalkan bekas lebam di langit, masihkah anda di sini? menanti apakah gerangan?", dengan lancang aku menegurnya. Kemudian dibalas dengan keheningan mungkin celotehku langsung terikut oleh angin yang berhamburan. Mungkin tak didengarnya atau mungkin juga memang malas menjawabnya. Perempuan itu tetap saja diam dan kemudian menghanyutkanku juga. "Maafkan aku jika telah menggangu anda, saya akan pergi".
Perempuan itu tetap saja diam, menolehpun tidak sama sekali. Aku semakin penasaran, Dia hampir sama tinggi denganku, tapi tubuhnya tak berisi dan sangat ramping. Wajahnya lumayan manis, tapi tetap memancarkan pancaran tak beraura. Kosong...
Ada apa dengan perempuan itu, betapa hebat mungkin masalah yang dia hadapi. Aku yang juga sering punya banyak masalah tak seserius amat dengan berlamaan berdiri mencongkak di tepi pantai itu.
Baru sekitar tiga langkah beranjak darinya, aku melihat adik kecil berlari menuju ke arah kami. Membawa botol air mineral. Tampaknya sangat akrab, wajahnya mirip sama perempuan itu. Pasti adiknya. Adik kecil itu langsung mengagetkan perempuan itu, dengan berkata, "kak, udah mau magrib, ayo pulang. Besok lagi ke sini". Sambil menarik tangan kanan perempuan itu kemudian menaruh di pundaknya. lalu berjalan dengan pelan. Seperti orang tua jompo saja yang sudah ngga bisa lagi berjalan sendiri. Tampaknya seperti ada yang lain dari perempuan itu. Apakah dugaanku salah yah, apa dia buta?. Tidak salah lagi tampaknya memang perempuan itu buta. Aku cukup lama berdiri mematung memerhatikan mereka berjalan sampai ujung rambut mereka tak kelihatan lagi.
Aku semakin penasaran, ingin sekali mengenalnya. Aku suka pantai, dia juga suka pantai. Aku tiap seminggu ke sini, namun mungkin dia tiap hari di sini. Perempuan buta itu terus mengusik khayalku. Besok aku harus ke pantai ini lagi. Mungkin adik kecilnya bisa memberitahuku apa yang sebenarnya dialami perempuan itu dengan terus berdiri di tepi pantai itu seakan sedang menanti seseorang.
Keesokan harinya ketika senja belum tampak, aku sudah berada di tempat favoritku ini. Sengaja aku datang lebih cepat. Perempuan itu sudah membuatku penasaran. Tak lama kemudian aku sudah melihat mereka. Mereka tampak berbincang sesuatu dan selintas adik kecil itu meninggalkan perempuan itu. Langsung saja aku berlari mengejar adik kecil itu dan mencegatnya. "Dik, perempuan itu tiap hari di situ bikin apa yah? maafin kakak sebelumnya. Aku orang baik-baik kok. Jangan takut". "Ouh, kakak saya semenjak ditinggal tunangannya akibat kapalnya tenggelam di tengah laut, berubah jadi pendiam dan sekarang menjadi buta karena pernah membenturkan kepalanya ke tembok akibat penyesalan telah kehilangan lelaki yang disayangnya".
Aku bisa merasakannya, yah aku bisa. Sangat dahsyat, sungguh hancur hatinya. Tuhan, berikan dia jalan terang. Betapa jahatnya Engkau, tak kasihan kah melihat hamba-Mu yang satu ini. Sadarkanlah dia. Tepuklah pundaknya. Bangunkan dia.
Haruskah lewat aku Tuhan.
Hari demi hari, senja berganti senja, aku terus menemaninya berdiri di tepi pantai. namun dia tetap saja tak bergeming walau seribu kata telah terucap untuk mengajaknya ngobrol. "Aku mencintaimu...!, Tuhan telah mengirimku ke sini untukmu, menemanimu, menjagamu, menyayangimu. Kita sudah ditakdirkan.
*)Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
*)Sajak oleh Sapardi Djoko Damono
Minggu, 22 Februari 2009
Cerita Pendek | Tetanggaku Idolaku

Aku punya tetangga di sebelah kanan depan rumahku, bentuk rumahnya kotak persegi tapi agak miring sedikit. Berdinding "gamacca" (yang terbuat dari anyaman bambu) berlantaikan tanah beratapkan tripleks yang memiliki banyak lubang sehingga ketika hujan menggempur banjirlah rumahnya. Aku ingat ketika suatu hari hujannya sangat lebat. Di balik jendela kamarku yang memang bisa melihat luas di sekeliling depan rumah, aku melihat mereka berempat yang terdiri ayah, ibu, dan dua anak sepasang duduk berjejer sambil asyik bercanda ria di atas sebuah meja dalam rumahnya. Dari jauhpun mereka dapat langsung dilihat karena memang tidak memiliki pintu. Mereka duduk di atas meja kusang itu untuk menghindari genangan air yang masuk dalam rumahnya mungkin setinggi lutut orang dewasa.
Kampung kami memang sarangnya orang miskin, tapi mereka sekeluarga itu mungkin yang paling termiskin. Bapaknya sudah tidak bisa bekerja lagi karena sakit-sakitan, aku dengar sih penyakitnya komplikasi serangan jantung, stroke, asam urat. Yah pokoknya semua penyakit orang kaya dia derita.
Ibunya sebenarnya punya kerjaan itupun paruh waktu saja di hari sabtu dan minggu sebagai tukang cuci pakaian tetangga, kalau hari biasa kurang dan jarang. Shiva anak perempuannya yang sering bantu ibunya sedangkan Salman jika pagi jual koran dan malam jadi pengamen. Anak yang masih di bawah umur ini selayaknya duduk di bangku sekolah untuk mengenyam pendidikan. Kasihan mereka.
"Farid...!!!, jelas skali suara ibuku ini. Iya bu. "Ini pakaian kotor kasih ibunya Shiva yah, sekalian ini beras 3 liter berikan juga". Ibu menyodorkan sekeranjang pakaian kotor dengan sekantong plastik hitam yang katanya isinya beras. Aku beranjak ke rumah pak Abdi. "Ibunya Shiva...!", teriak aku dari luar rumahnya. "ini ada pakaian kotor tolong dicuciin yah", sambil menyodorkan keranjang pakaian dan sekantong plastik. "Ini kantongan isinya apa, wah terima kasih banyak rid, semoga Allah membalas kebaikan kalian sekeluarga". "Amin..!", sahutku dalam hati. "Adik shiva dan Salman dimana ?", Oh Shiva ada di dalam kalau Salman lagi jualan koran". Gimana bapak bu ?". Yah masih gitu-gitu aja. Aku menatap mata ibu Shiva, kulihat ke dalamnya ada suatu titik cahaya suatu tanda keikhlasan dalam menghadapi cobaan hidupnya. Mata ini sungguh indah, hitam kecoklatan dengan garisan hitam di bagian bawah kelopaknya. Tampaknya ibu Shiva kurang tidur. Mungkin dia begadang jagain suaminya. "Kalau begitu aku pulang dulu yah salam buat Shiva dan Salman". Aku pamit pada Ibu Shiva.
Sekitar tiga meter dari rumahnya, aku lihat Salman berlari ke arahku maksudku ke arah rumahnya. ""Ada apa man...? kayaknya senang banget ?", aku cegat dia. "Koranku ludes kak, pertama kalinya bisa habis terjual. Biasanya sisa setengah".Salman menyahut sambil melemparkan senyum yang sangat alami. Senyum anak orang miskin yang begitu indah dan meyejukkan hati. Entah perasaan apa yang kurasa ketika adik salman ini tersenyum. Aku suka senyumannya, gigi kuning hitam yang rata, dengan bibir yang tipis kusam itu sungguh bikin aku terpesona. Kemudian menghampiri ibunya yang masih berdiri di depan rumahnya yang asyik memindahkan beras di kantongan tadi ke baskomnya. Aku balik memperhatikan mereka berdua sambil tersenyum. Ibunya memeluk Salman lalu mencium keningnya. Sungguh adegan menarik. Mereka tertawa lepas. Mereka tampak mensyukuri rezeki yang diperolehnya.
Keluarga yang sangat bahagia...
"Bukankah hidup ini cuma kebahagiaan yang kita cari. Kebahagiaan dunia dan akhirat itulah tujuan kita. Walaupun ditakdirkan hidup tak berkecukupan, hidup apa adanya. Namun jika kita tetap bersyukur menghadapi jalannya roda nasib ini Insya Allah kebahagiaan akan datang menghambur".
Aku perlu belajar banyak dari mereka, aku sebut mereka tetanggaku idolaku. Sebenarnya keluargaku juga termasuk kalangan miskin. Namun tak semiskin keluarga pak Abdi. Aku yang pengangguran ini dan Ibu, cuma mengandalkan gaji pensiunan PNS mendiang ayahku. Untung aku nggak punya saudara. Jadi nggak terlalu banyak pengeluaran. Yang jelas udah pas untuk kebutuhan makan sehari-hari.
Malam ini suntuk banget, asap terus mengepul di kamarku, kadang berbentuk love, kotak, atau yang kebanyakan bulat-bulat. Dan menari-nari di atas kepalaku menuju jendela kamarku yang terbuka lebar. Ibu lelap sekali tidurnya sampai-sampai ngoroknya kedengaran dari kamarnya. Yah jelas kedengaran, dinding batas kamarku dengan Ibu cuma tripleks doang. Bahkan jengkrik-jengkrik mungkin juga sudah tidur, aku sudah tidak mendengar mereka mengerik dibalik bebatuan itu. Kulirik jam di dinding yang debunya sedikit menutupi nomor-nomor tiga, empat, dan lima. Jarum pendeknya mengarah antara jam tiga, empat, atau lima. Aku perkirakan saja jam 4 pagi. Aku beranjak menuju jendela kamarku, uh dingin...hembusan angin yang sejuk. Aku tengok kiri kanan. Sepi...! Kulihat rumah pak Abdi yang makin hari aku perhatikan sudah bukan berbentuk persegi lagi namun yang kulihat sekarang ini sudah jajaran genjang. Gelap sekali rumahnya. Sebenarnya itu rumah layak disebut kandang sapi. Kasihan mereka hidup tak berkecukupan. Namun yang bikin aku salut karena mereka tak pernah mengeluh tentang keadaannya.
Dikeheningan ini tiba-tiba saja aku kepikiran untuk mencari kerja. Selama ini aku cuma malas-malasan di rumah, kerjanya cuman makan dan tidur. "Ayo semangat Farid, buktikan kalau kamu bisa menjadi orang yang berguna untuk semua orang terkhusus Ibu kamu !", Ada yang berbisik di sudut pikiranku.
Sayur..sayur...sayur...!!!
Waduh bangun siang lagi nih, selalu saja tukang sayur itu yang bangunin. Gimana nggak bangun, suaranya seperti harimau waktu nguap. Bisa kedengaran satu kampung. Kebiasaan ini susah sekali aku tinggalkan. Aku harus mengubah kebiasaan buruk ini. Aku bangun dari tempat tidur menuju jendela kamarku sambil mengangkat kedua tanganku dan mulut menganga lebar. Aku menguap. Kulihat Ibu di depan rumah bersama tetangga mengerumuni jajanan tukang sayur itu. Aku juga melihat Salam bermain kelereng dengan teman sejawatnya. Ibunya sedang menjemur pakaian. "Astaga...! itu celana dalamku, kok ibu juga masukin di keranjang sih. Sudah saya bilang nanti aku yang cuci sendiri". "Aku mencium bau bangkai, busuk skali. hmm, dari ketiak aku. Bergegas aku mandi dan sarapan.
"Bu aku keluar dulu yah, mau cari kerjaan. Doain semoga dapat". Sambil mencium tangan kasar ibuku. "Baguslah kalau kamu sudah bisa berpikiran seperti ini. Insya Allah jika niat kita baik, Allah akan slalu memberi kemudahan".
Aku cuma bisa berusaha semampuku meski tak tahu nantinya baik atau tidak. Seperti yang telah dijalani keluarga pak Abdi itu. Mereka tetap tersenyum dan ikhlas, walaupun goresan nasib baik tak selalu berpihak dan rezeki dari Allah yang jarang berkunjung.
Kampung kami memang sarangnya orang miskin, tapi mereka sekeluarga itu mungkin yang paling termiskin. Bapaknya sudah tidak bisa bekerja lagi karena sakit-sakitan, aku dengar sih penyakitnya komplikasi serangan jantung, stroke, asam urat. Yah pokoknya semua penyakit orang kaya dia derita.
Ibunya sebenarnya punya kerjaan itupun paruh waktu saja di hari sabtu dan minggu sebagai tukang cuci pakaian tetangga, kalau hari biasa kurang dan jarang. Shiva anak perempuannya yang sering bantu ibunya sedangkan Salman jika pagi jual koran dan malam jadi pengamen. Anak yang masih di bawah umur ini selayaknya duduk di bangku sekolah untuk mengenyam pendidikan. Kasihan mereka.
"Farid...!!!, jelas skali suara ibuku ini. Iya bu. "Ini pakaian kotor kasih ibunya Shiva yah, sekalian ini beras 3 liter berikan juga". Ibu menyodorkan sekeranjang pakaian kotor dengan sekantong plastik hitam yang katanya isinya beras. Aku beranjak ke rumah pak Abdi. "Ibunya Shiva...!", teriak aku dari luar rumahnya. "ini ada pakaian kotor tolong dicuciin yah", sambil menyodorkan keranjang pakaian dan sekantong plastik. "Ini kantongan isinya apa, wah terima kasih banyak rid, semoga Allah membalas kebaikan kalian sekeluarga". "Amin..!", sahutku dalam hati. "Adik shiva dan Salman dimana ?", Oh Shiva ada di dalam kalau Salman lagi jualan koran". Gimana bapak bu ?". Yah masih gitu-gitu aja. Aku menatap mata ibu Shiva, kulihat ke dalamnya ada suatu titik cahaya suatu tanda keikhlasan dalam menghadapi cobaan hidupnya. Mata ini sungguh indah, hitam kecoklatan dengan garisan hitam di bagian bawah kelopaknya. Tampaknya ibu Shiva kurang tidur. Mungkin dia begadang jagain suaminya. "Kalau begitu aku pulang dulu yah salam buat Shiva dan Salman". Aku pamit pada Ibu Shiva.
Sekitar tiga meter dari rumahnya, aku lihat Salman berlari ke arahku maksudku ke arah rumahnya. ""Ada apa man...? kayaknya senang banget ?", aku cegat dia. "Koranku ludes kak, pertama kalinya bisa habis terjual. Biasanya sisa setengah".Salman menyahut sambil melemparkan senyum yang sangat alami. Senyum anak orang miskin yang begitu indah dan meyejukkan hati. Entah perasaan apa yang kurasa ketika adik salman ini tersenyum. Aku suka senyumannya, gigi kuning hitam yang rata, dengan bibir yang tipis kusam itu sungguh bikin aku terpesona. Kemudian menghampiri ibunya yang masih berdiri di depan rumahnya yang asyik memindahkan beras di kantongan tadi ke baskomnya. Aku balik memperhatikan mereka berdua sambil tersenyum. Ibunya memeluk Salman lalu mencium keningnya. Sungguh adegan menarik. Mereka tertawa lepas. Mereka tampak mensyukuri rezeki yang diperolehnya.
Keluarga yang sangat bahagia...
"Bukankah hidup ini cuma kebahagiaan yang kita cari. Kebahagiaan dunia dan akhirat itulah tujuan kita. Walaupun ditakdirkan hidup tak berkecukupan, hidup apa adanya. Namun jika kita tetap bersyukur menghadapi jalannya roda nasib ini Insya Allah kebahagiaan akan datang menghambur".
Aku perlu belajar banyak dari mereka, aku sebut mereka tetanggaku idolaku. Sebenarnya keluargaku juga termasuk kalangan miskin. Namun tak semiskin keluarga pak Abdi. Aku yang pengangguran ini dan Ibu, cuma mengandalkan gaji pensiunan PNS mendiang ayahku. Untung aku nggak punya saudara. Jadi nggak terlalu banyak pengeluaran. Yang jelas udah pas untuk kebutuhan makan sehari-hari.
Malam ini suntuk banget, asap terus mengepul di kamarku, kadang berbentuk love, kotak, atau yang kebanyakan bulat-bulat. Dan menari-nari di atas kepalaku menuju jendela kamarku yang terbuka lebar. Ibu lelap sekali tidurnya sampai-sampai ngoroknya kedengaran dari kamarnya. Yah jelas kedengaran, dinding batas kamarku dengan Ibu cuma tripleks doang. Bahkan jengkrik-jengkrik mungkin juga sudah tidur, aku sudah tidak mendengar mereka mengerik dibalik bebatuan itu. Kulirik jam di dinding yang debunya sedikit menutupi nomor-nomor tiga, empat, dan lima. Jarum pendeknya mengarah antara jam tiga, empat, atau lima. Aku perkirakan saja jam 4 pagi. Aku beranjak menuju jendela kamarku, uh dingin...hembusan angin yang sejuk. Aku tengok kiri kanan. Sepi...! Kulihat rumah pak Abdi yang makin hari aku perhatikan sudah bukan berbentuk persegi lagi namun yang kulihat sekarang ini sudah jajaran genjang. Gelap sekali rumahnya. Sebenarnya itu rumah layak disebut kandang sapi. Kasihan mereka hidup tak berkecukupan. Namun yang bikin aku salut karena mereka tak pernah mengeluh tentang keadaannya.
Dikeheningan ini tiba-tiba saja aku kepikiran untuk mencari kerja. Selama ini aku cuma malas-malasan di rumah, kerjanya cuman makan dan tidur. "Ayo semangat Farid, buktikan kalau kamu bisa menjadi orang yang berguna untuk semua orang terkhusus Ibu kamu !", Ada yang berbisik di sudut pikiranku.
Sayur..sayur...sayur...!!!
Waduh bangun siang lagi nih, selalu saja tukang sayur itu yang bangunin. Gimana nggak bangun, suaranya seperti harimau waktu nguap. Bisa kedengaran satu kampung. Kebiasaan ini susah sekali aku tinggalkan. Aku harus mengubah kebiasaan buruk ini. Aku bangun dari tempat tidur menuju jendela kamarku sambil mengangkat kedua tanganku dan mulut menganga lebar. Aku menguap. Kulihat Ibu di depan rumah bersama tetangga mengerumuni jajanan tukang sayur itu. Aku juga melihat Salam bermain kelereng dengan teman sejawatnya. Ibunya sedang menjemur pakaian. "Astaga...! itu celana dalamku, kok ibu juga masukin di keranjang sih. Sudah saya bilang nanti aku yang cuci sendiri". "Aku mencium bau bangkai, busuk skali. hmm, dari ketiak aku. Bergegas aku mandi dan sarapan.
"Bu aku keluar dulu yah, mau cari kerjaan. Doain semoga dapat". Sambil mencium tangan kasar ibuku. "Baguslah kalau kamu sudah bisa berpikiran seperti ini. Insya Allah jika niat kita baik, Allah akan slalu memberi kemudahan".
Aku cuma bisa berusaha semampuku meski tak tahu nantinya baik atau tidak. Seperti yang telah dijalani keluarga pak Abdi itu. Mereka tetap tersenyum dan ikhlas, walaupun goresan nasib baik tak selalu berpihak dan rezeki dari Allah yang jarang berkunjung.
Kamis, 12 Februari 2009
Cerita Pendek | Setangkai Senja
Cerpen Setangkai Senja Karya Idwar Anwar

Senja menari-nari di bibir laut, membiaskan memar di atas kota basah. Ombak-ombak menyanyikannya dengan ritme gelisah. Menghempas karang-karang yang menatapnya nanar. Di sebuah bangku tua yang pada setiap tepinya lapuk dan kusam, aku duduk melingkarkan lengan pada seonggok kehangatan yang resah menanti dentuman bibir sang kekasih mengetarkan cintanya. Angin yang berhembus membawa aroma laut menerpa wajahku dan sebuah kehangatan yang kurangkul mesra.
Setangkai senja itu menggelayut gelisah. Di mataku keresahannya membayang membentuk sebuah siluet; ragu-ragu. Di kejauhan membayang pulau-pulau, bagang-bangang dan perahu-perahunelayan yang sesekali tenggelam dalam pandanganku oleh ombak yang menghempas menyisakan gemuruh. Orang-orang berlarian menghindari rinai hujan yang menjuntai dari langit yang mulai pekat. Ada yang mencelupkan tubuhnya ke dalam tenda-tenda, tempat pera penjual yang nongkrong setiap sore di Pelabuhan Tanjung Ringgi menjalankan potonga-potongan kehidupan. Ada yang membungkus diri dengan mantel yang penuh dengan bekas lipatan-lipatan. Ada yang berlari sekencang-kencangnya menghampiri mobilnya dan tertelan ke dalamnnya. Ada juga yang tetap pulang dan rela tubuhnya dicecah hujan.
Setangkai senja itu menggelayut gelisah. Di mataku keresahannya membayang membentuk sebuah siluet; ragu-ragu. Di kejauhan membayang pulau-pulau, bagang-bangang dan perahu-perahunelayan yang sesekali tenggelam dalam pandanganku oleh ombak yang menghempas menyisakan gemuruh. Orang-orang berlarian menghindari rinai hujan yang menjuntai dari langit yang mulai pekat. Ada yang mencelupkan tubuhnya ke dalam tenda-tenda, tempat pera penjual yang nongkrong setiap sore di Pelabuhan Tanjung Ringgi menjalankan potonga-potongan kehidupan. Ada yang membungkus diri dengan mantel yang penuh dengan bekas lipatan-lipatan. Ada yang berlari sekencang-kencangnya menghampiri mobilnya dan tertelan ke dalamnnya. Ada juga yang tetap pulang dan rela tubuhnya dicecah hujan.
Aku masih tetap duduk di atas bangku lapuk, sisa-sisa kesetiaan yang suram. Sesekali menggeser dan mengangkat sedikit pantatku yang mulai penat. Sebuah paku yang terbuka kurasakan menusuk pahaku, saat kian mendekati tubuhnya yang dibekapa pakaian berwarna krem. Tubuh itu menebar aroma parfum yang membuai kesadaranku. Di atasku, gemuruh seng yang diterpa angin menyisakan keterkejutan. Beberapa orang kulihat masih asyik-masyuk dengan kail di tangannya, tafakur di bibir laut, memancing kesetiaan ombak pada laut. Membiarkan tubuh-tubuh mereka basah oleh cecah hujan yang rintik.
Diam dalam seribu bahasa, membuat kami hanya seperti berlomba menghirup udara senja. Rintik hujan berhamburan dihempas angin yang sesekali bertiup kencang. Butiran-butirannya yang halus kadang kala menerpa wajahku. Sesekali kuusap dengan telapak tanganku yang mulai dialiri gigil. Karena tak kuasa, akhirnya kubenturkanbinar mataku ke permukaan wajahnya. Kulihat wajahnya masih beku oleh angin yang menggigilkan. lalu pindah ke bola matanya yang berombak. Aku tahu ada gelisah di sana. "Kenapa senja ini membuatku gelisah ?"tanyanya membuyarkan keterpukauan kami pada lebam di tepi langit. "Ah, kau ini ada-ada saja," timpalku sekenanya. Aku tahu gelisah itu tumbuh dari penantiannya akan sebuah ucapan yang keluar dari bibirku. Tapi sudahlah. Degup jantungku pun mulai berontak. "Kita sama-sama tak tahan diseruduk ketidakpastian." Kalimatku tak sempat keluar karena buru-buru kutelan. Aku lalu tertawa kecil, meski degup jantungku semakin kencang dan tak kuasa kuredakan.
"Ayo kita pulang. Rinai hujan sesekali telah menjelma serbuk di angkasa," ucap perempuan itu lagi. Sorot matanya menuju laut, menerjang serbuk hujan yang berhamburan yang kadang-kadang berubah dan datang begitu cepat menusuk-nusuk permukaan bumi. Aku tak peduli. Kulihat matanya malah menolak apa yang diucapkan bibirnya. Aku tahu itu bagian dari kegelisahannya. "Sebentar lagi. Bukankah malam tidak lama lagi akan menghamparkan tudung hitamnya?" Sebaiknya kita nikmati dulu senja ini. Senja dengan luka bakar di tepinya." Mataku perlahan-lahan semakin beriak. Perempuan itu tertunduk. Seperti ingin memenjarakan tatapannya di keheningan lantai yang kian basah. Tapi sekali lagi aku tahu, ia tak akan mampu begitu lama melakukannya. Aku tiba-tiba mengerti betul riak di bola matanya. Entah mengapa aku begitu yakin akan apa yang ada dalam benaknya.
Warna lampu merkuri yang dipaksa menerangi, menyaput malas permukaan wajahku yang membungkus perempuan itu dalam kehangatan. Ritme jantungnya kurasakan mengalir ke seluruh permukaan tubuhnya yang dibalut hawa dingin. "Ah mengapa senja ini begitu berpihak padaku," kataku membatin. Di sudut bibirku menggelayut kepuasan. Guratan itu kian jelas, namun berusaha kusembunyikan. Kulihat perempuan itu menatapku. Aku menagkap potongan-potongan bening matanyayang dikaburkan senja. Ada yang mengalir deras dari sorot matanya itu. Aku bisa merasakannya. Gemuruh dalam dirinya membuat bibirnya dingin dan beku. Dalam keterpakuan kami, tak terasa bibirku juga menjelma ngarai; sunyi. Berbagai kata yang telah kupersiapkan untuk kuucapkan di hadapannya seketika saja lenyap. Semuanya menguap di angkasa, menari-nari bersama awan, namun tak juga hendak turun bersama air hujan.
Kami sama-sama diam. Entah mengapa lidahku teramat kaku. Ketakutan macam apa yang dengan garang memenjarakanku. Menghempasku ke dalm ketidakberdayaan. tarikan nafasku bergemuruh menahan kalimat yang tersumbat di tenggorokanku. Angin dingin semakin beringas menerjang tubuh kami. "Aku kedinginan," ucapnya. Berkali-kali ingin kukatakan bahwa aku tahu apa yang bergejolak dalam dirinya. Angin dingin hanya bagian terkecil dari kegelisahan itu. Kutarik kembali nafas yang makin memburu. Beribu keraguan menghempas bersamanya. Kusobek keheningan wajahnya dengan tatapanku yang berusaha menembus cahaya yang kian berkurang di mayapada.
Diam.... Cukup lama suasan itu mematok kami. Hingga dengan segala keberanian....
"Ambillah setangkai senja ini. Jangan biarkan layu membentuk kerutan-kerutan kepedihan. Biarlah kusemai diranum bibirmu, di tiap helai rambut yang menjuntai indah, di setiap pori-porimu, di denyut nadimu dan debar jantungmu. Di potongan-potongan nafasmu dengan khusyuk kusemai setangkai senja itu." Akhirnya keluar juga kalimat yang sekian lama mendesak-desak. Perempuan itu terperagap, lalu diam menatapku tanpa ekspresi. Hanya matanya yang berucap. Hanya matanya yang melantunkan orkestra musim semi. Hanya matanya yang menari-nari penuh kegirangan. Hanya matanya yang memancarkan binar. Dan hampir tak kusangka... ternyata hanya di matanya pula kutemukan keraguan.
"Kita beda..."
Aku tersentak. Tapi cinta teramat mampu menepis segalanya. Sebuah kekuatan dengan cepat memenjarakan selaksa keraguan di senin sore medio februari itu...
Tiba-tiba aku terperanjat. Pandanganku tanpa kusadari perlahan kabur oleh air mata. Di bangku yang menggiringku pada abad-abad renyah., aku ternyata masih tetap terduduk. Aku tak pernah kembali menemui perempuan itu di abad lampau. yang ada, hanya kenangan itu menggiring kesadaranku ke dalam kuasanya. Beribu kepedihan dan rasa penyesalan datang menggerogoti dan memenjarakan bibirku hingga dipaksa untuk kehilangan tawa bahkan senyum sekalipun jika mengingatnya. Kuyakin tak seorangpun yang akan mampu mendapatkan lagi tempat dalam diriku yang kutinggalkannya, sebab ketulusan itu telah mempersembahkan diri seutuhnya.
Tapi kini perempuan itu terbujur kaku dalam kepedihan yang kutabur. Ketidakjujuranku membuatnya ingin mematahkan dan mencampakkan setangkai senja yang dulu kusematkan ke dalam totalitas dirinya. Aroma kebencian seperti menggumpal-gumpal dan beriring mendekap kepedihannya. Sepertinya semua potensi dirinya meronta-ronta ingin meninggalkan segala kenangan yang pernah kami semai pada setiap detak jantung dan tarikan nafas.
Sesaat pandanganku menohok tajam ke arah laut lepas. Perahu-perahu nelayan berseliweran di riak mataku. Ada kesedihan yang terpancar. Bangku tempatku menyematkan setangkai senja, menggeliat. Kurasakan keresahanku merasukinya. Membuatnya ingin kembali mengulang kisah lampau. Aku tersentak.
"Kau telah menghianatiku ! Cintamu telah terbagi !" Ucapa sengit yang berhamburan di bibirnya yang lembut itu menerjangku. Kalimat itu meluncur dari mulutnya, di suatu hari, di sebuah keheningan malam yang pekat.
Aku hanya diam. Telepon yang kupegang bergetar mengiringi kecemasanku. Adakah kata penghianatan dalam cinta ? Batinku meradang. Benarkah cinta terbagi ? Dan kalaupun terbagi, benarkah ia akan berkurang ? Yang kupahami, tak pernah ada penghianatan dalam cinta. Cinta adalah sebuah totalitas dari sebuah penghambaan seorang pencinta pada yang dicintainya. Cinta tidak pernah terbagi, sebab ia sesuatu yang non material. Dan kalaupun harus mengatakn "terbagi", maka cinta itu tak akan pernah berkurang. Ia akan tetap menjadi sebuah cinta yang utuh, meski harus terbagi hingga titik kepuasan tertinggi kita membaginya. Kualitas atau kalau terpaksa harus mengatakan kuantitas, Cinta itu sesungguhnya ditentukan oleh hubungan pencinta dan sang kekasih. Seberapa hebatnya hubungan itu, sebegitu hebatnya pula kualitas cinta yang miliki. Cinta pada seseorang tidak akan pernah sama dengan cinta pada seorang lainnya. Itu bukan karena berkurangnya kualitas cinta yang "terbagi". Akan tetapi ditentukan oleh seberapa hebat hubungan pencinta dan sang kekasih. Sebab cinta pada seorang yang sama pun, dari detik ke detik pasti tidak akan pernah sama kualitasnya. Cinta bukan sesuat yang statis. Ia dinamis dan akan terus berfluktuasi, tergantung dari seberapa hebat hubungan antara pencinta dan sang kekasih.
Cepat-cepat kutarik nafas dalam-dalam. Tak sanggup lagi aku meneruskan kalimat yang ingin terus meluncur dari bibirku., sebagai penjelasan atas semua kesalahan yang disematkan padaku. Bayangan awan hitam yang menggantung di wajahperempuan itu membuatku takut. Cap penghianat menempel erat di wajahku. Padahal yang aku pahami tidak ada kata penghianatan dalam cinta. Sebab cinta itu adalah sebuah penghambaan. Ia datang dari Tuhan. Ia akan tetap suci. Cinta tidak akan pernah ternoda. Tak ada secuil penghianatan di dalamnya.
Aku masih duduk di bangku itu ketika senja datang menghampiri. Tapi senja ini tak seperti senja ketika aku bersama dengan perempuan itu meneguk segala kenikmatan yang ditawarkannya. "Biarlah akan aku ramu kembali setangkai senja yang patah pada nisan hatimu, agar engkau selalu terkenang sebait senja yang telah mempertautkan kita dalam ranah yang mungkin tak pernah kita bayangkan. Aku tak ingin setangkai senja itu pergi begitu saja, meninggalkan kehampaan. Setangkai senja itu tak pernah kuharap akan patah di hatimu," pintaku lirih yang dengan cepat dihempas angin. tak seorang pun yang mendengar.
Beberapa hari telah kulewatkan di tempat itu seorang diri. Di sebuah bangku, di bawah temaram lampu merkuri, tempat dimana kami pernahsaling mempertautkan segala keingingan. Aku terus menunggu setiap senja yang datang. Tapi entah, aku merasakan cinta yang dikukuhkan pada senja temaram itu, tiba-tiba disergap mendung malam yang gulita. Aku terus mencarinya. Dari senja aku terus berjalan. Hari berganti, waktu berlalu, detik demi detik telah kuhabiskan untuk mencari setangkai senja yang telah mempertautkan segala kepolosan kami. Seolah tak ada lagi senja yang tak terekam di benakku. Tapi aku tak pernah menemukannya; setangkai senja yang pernah kusematkan di totalitas perempuan itu. Meningglakan sebuah bangku kenangan, tempat sebuah harapan disematkan adalah ketersiksaan yang maha dahsyat. Aku hanya terus berharap, setangkai senja yang pernah kusematkan dalam totalitasnya akan tetap tumbuh, agar aku bisa tetap menikmatinya. Kendati juga aku harus real, jika kelak aku tak akan ammpu menikmati setangkai senja itu seutuhnya.
Diam dalam seribu bahasa, membuat kami hanya seperti berlomba menghirup udara senja. Rintik hujan berhamburan dihempas angin yang sesekali bertiup kencang. Butiran-butirannya yang halus kadang kala menerpa wajahku. Sesekali kuusap dengan telapak tanganku yang mulai dialiri gigil. Karena tak kuasa, akhirnya kubenturkanbinar mataku ke permukaan wajahnya. Kulihat wajahnya masih beku oleh angin yang menggigilkan. lalu pindah ke bola matanya yang berombak. Aku tahu ada gelisah di sana. "Kenapa senja ini membuatku gelisah ?"tanyanya membuyarkan keterpukauan kami pada lebam di tepi langit. "Ah, kau ini ada-ada saja," timpalku sekenanya. Aku tahu gelisah itu tumbuh dari penantiannya akan sebuah ucapan yang keluar dari bibirku. Tapi sudahlah. Degup jantungku pun mulai berontak. "Kita sama-sama tak tahan diseruduk ketidakpastian." Kalimatku tak sempat keluar karena buru-buru kutelan. Aku lalu tertawa kecil, meski degup jantungku semakin kencang dan tak kuasa kuredakan.
"Ayo kita pulang. Rinai hujan sesekali telah menjelma serbuk di angkasa," ucap perempuan itu lagi. Sorot matanya menuju laut, menerjang serbuk hujan yang berhamburan yang kadang-kadang berubah dan datang begitu cepat menusuk-nusuk permukaan bumi. Aku tak peduli. Kulihat matanya malah menolak apa yang diucapkan bibirnya. Aku tahu itu bagian dari kegelisahannya. "Sebentar lagi. Bukankah malam tidak lama lagi akan menghamparkan tudung hitamnya?" Sebaiknya kita nikmati dulu senja ini. Senja dengan luka bakar di tepinya." Mataku perlahan-lahan semakin beriak. Perempuan itu tertunduk. Seperti ingin memenjarakan tatapannya di keheningan lantai yang kian basah. Tapi sekali lagi aku tahu, ia tak akan mampu begitu lama melakukannya. Aku tiba-tiba mengerti betul riak di bola matanya. Entah mengapa aku begitu yakin akan apa yang ada dalam benaknya.
Warna lampu merkuri yang dipaksa menerangi, menyaput malas permukaan wajahku yang membungkus perempuan itu dalam kehangatan. Ritme jantungnya kurasakan mengalir ke seluruh permukaan tubuhnya yang dibalut hawa dingin. "Ah mengapa senja ini begitu berpihak padaku," kataku membatin. Di sudut bibirku menggelayut kepuasan. Guratan itu kian jelas, namun berusaha kusembunyikan. Kulihat perempuan itu menatapku. Aku menagkap potongan-potongan bening matanyayang dikaburkan senja. Ada yang mengalir deras dari sorot matanya itu. Aku bisa merasakannya. Gemuruh dalam dirinya membuat bibirnya dingin dan beku. Dalam keterpakuan kami, tak terasa bibirku juga menjelma ngarai; sunyi. Berbagai kata yang telah kupersiapkan untuk kuucapkan di hadapannya seketika saja lenyap. Semuanya menguap di angkasa, menari-nari bersama awan, namun tak juga hendak turun bersama air hujan.
Kami sama-sama diam. Entah mengapa lidahku teramat kaku. Ketakutan macam apa yang dengan garang memenjarakanku. Menghempasku ke dalm ketidakberdayaan. tarikan nafasku bergemuruh menahan kalimat yang tersumbat di tenggorokanku. Angin dingin semakin beringas menerjang tubuh kami. "Aku kedinginan," ucapnya. Berkali-kali ingin kukatakan bahwa aku tahu apa yang bergejolak dalam dirinya. Angin dingin hanya bagian terkecil dari kegelisahan itu. Kutarik kembali nafas yang makin memburu. Beribu keraguan menghempas bersamanya. Kusobek keheningan wajahnya dengan tatapanku yang berusaha menembus cahaya yang kian berkurang di mayapada.
Diam.... Cukup lama suasan itu mematok kami. Hingga dengan segala keberanian....
"Ambillah setangkai senja ini. Jangan biarkan layu membentuk kerutan-kerutan kepedihan. Biarlah kusemai diranum bibirmu, di tiap helai rambut yang menjuntai indah, di setiap pori-porimu, di denyut nadimu dan debar jantungmu. Di potongan-potongan nafasmu dengan khusyuk kusemai setangkai senja itu." Akhirnya keluar juga kalimat yang sekian lama mendesak-desak. Perempuan itu terperagap, lalu diam menatapku tanpa ekspresi. Hanya matanya yang berucap. Hanya matanya yang melantunkan orkestra musim semi. Hanya matanya yang menari-nari penuh kegirangan. Hanya matanya yang memancarkan binar. Dan hampir tak kusangka... ternyata hanya di matanya pula kutemukan keraguan.
"Kita beda..."
Aku tersentak. Tapi cinta teramat mampu menepis segalanya. Sebuah kekuatan dengan cepat memenjarakan selaksa keraguan di senin sore medio februari itu...
***
Tiba-tiba aku terperanjat. Pandanganku tanpa kusadari perlahan kabur oleh air mata. Di bangku yang menggiringku pada abad-abad renyah., aku ternyata masih tetap terduduk. Aku tak pernah kembali menemui perempuan itu di abad lampau. yang ada, hanya kenangan itu menggiring kesadaranku ke dalam kuasanya. Beribu kepedihan dan rasa penyesalan datang menggerogoti dan memenjarakan bibirku hingga dipaksa untuk kehilangan tawa bahkan senyum sekalipun jika mengingatnya. Kuyakin tak seorangpun yang akan mampu mendapatkan lagi tempat dalam diriku yang kutinggalkannya, sebab ketulusan itu telah mempersembahkan diri seutuhnya.
Tapi kini perempuan itu terbujur kaku dalam kepedihan yang kutabur. Ketidakjujuranku membuatnya ingin mematahkan dan mencampakkan setangkai senja yang dulu kusematkan ke dalam totalitas dirinya. Aroma kebencian seperti menggumpal-gumpal dan beriring mendekap kepedihannya. Sepertinya semua potensi dirinya meronta-ronta ingin meninggalkan segala kenangan yang pernah kami semai pada setiap detak jantung dan tarikan nafas.
Sesaat pandanganku menohok tajam ke arah laut lepas. Perahu-perahu nelayan berseliweran di riak mataku. Ada kesedihan yang terpancar. Bangku tempatku menyematkan setangkai senja, menggeliat. Kurasakan keresahanku merasukinya. Membuatnya ingin kembali mengulang kisah lampau. Aku tersentak.
"Kau telah menghianatiku ! Cintamu telah terbagi !" Ucapa sengit yang berhamburan di bibirnya yang lembut itu menerjangku. Kalimat itu meluncur dari mulutnya, di suatu hari, di sebuah keheningan malam yang pekat.
Aku hanya diam. Telepon yang kupegang bergetar mengiringi kecemasanku. Adakah kata penghianatan dalam cinta ? Batinku meradang. Benarkah cinta terbagi ? Dan kalaupun terbagi, benarkah ia akan berkurang ? Yang kupahami, tak pernah ada penghianatan dalam cinta. Cinta adalah sebuah totalitas dari sebuah penghambaan seorang pencinta pada yang dicintainya. Cinta tidak pernah terbagi, sebab ia sesuatu yang non material. Dan kalaupun harus mengatakn "terbagi", maka cinta itu tak akan pernah berkurang. Ia akan tetap menjadi sebuah cinta yang utuh, meski harus terbagi hingga titik kepuasan tertinggi kita membaginya. Kualitas atau kalau terpaksa harus mengatakan kuantitas, Cinta itu sesungguhnya ditentukan oleh hubungan pencinta dan sang kekasih. Seberapa hebatnya hubungan itu, sebegitu hebatnya pula kualitas cinta yang miliki. Cinta pada seseorang tidak akan pernah sama dengan cinta pada seorang lainnya. Itu bukan karena berkurangnya kualitas cinta yang "terbagi". Akan tetapi ditentukan oleh seberapa hebat hubungan pencinta dan sang kekasih. Sebab cinta pada seorang yang sama pun, dari detik ke detik pasti tidak akan pernah sama kualitasnya. Cinta bukan sesuat yang statis. Ia dinamis dan akan terus berfluktuasi, tergantung dari seberapa hebat hubungan antara pencinta dan sang kekasih.
Cepat-cepat kutarik nafas dalam-dalam. Tak sanggup lagi aku meneruskan kalimat yang ingin terus meluncur dari bibirku., sebagai penjelasan atas semua kesalahan yang disematkan padaku. Bayangan awan hitam yang menggantung di wajahperempuan itu membuatku takut. Cap penghianat menempel erat di wajahku. Padahal yang aku pahami tidak ada kata penghianatan dalam cinta. Sebab cinta itu adalah sebuah penghambaan. Ia datang dari Tuhan. Ia akan tetap suci. Cinta tidak akan pernah ternoda. Tak ada secuil penghianatan di dalamnya.
Aku masih duduk di bangku itu ketika senja datang menghampiri. Tapi senja ini tak seperti senja ketika aku bersama dengan perempuan itu meneguk segala kenikmatan yang ditawarkannya. "Biarlah akan aku ramu kembali setangkai senja yang patah pada nisan hatimu, agar engkau selalu terkenang sebait senja yang telah mempertautkan kita dalam ranah yang mungkin tak pernah kita bayangkan. Aku tak ingin setangkai senja itu pergi begitu saja, meninggalkan kehampaan. Setangkai senja itu tak pernah kuharap akan patah di hatimu," pintaku lirih yang dengan cepat dihempas angin. tak seorang pun yang mendengar.
Beberapa hari telah kulewatkan di tempat itu seorang diri. Di sebuah bangku, di bawah temaram lampu merkuri, tempat dimana kami pernahsaling mempertautkan segala keingingan. Aku terus menunggu setiap senja yang datang. Tapi entah, aku merasakan cinta yang dikukuhkan pada senja temaram itu, tiba-tiba disergap mendung malam yang gulita. Aku terus mencarinya. Dari senja aku terus berjalan. Hari berganti, waktu berlalu, detik demi detik telah kuhabiskan untuk mencari setangkai senja yang telah mempertautkan segala kepolosan kami. Seolah tak ada lagi senja yang tak terekam di benakku. Tapi aku tak pernah menemukannya; setangkai senja yang pernah kusematkan di totalitas perempuan itu. Meningglakan sebuah bangku kenangan, tempat sebuah harapan disematkan adalah ketersiksaan yang maha dahsyat. Aku hanya terus berharap, setangkai senja yang pernah kusematkan dalam totalitasnya akan tetap tumbuh, agar aku bisa tetap menikmatinya. Kendati juga aku harus real, jika kelak aku tak akan ammpu menikmati setangkai senja itu seutuhnya.
Rabu, 11 Februari 2009
Cerita Pendek | Reni Oh Reni

Senyum itu indah, Senyum itu sunnah, Senyum itu kamu !
By Your Secret Admire...
Message sent : Rh3nY Sw33t
Delivered
Perasaanku saat ini lagi ngga tenang dan gelisah, kira-kira sms yang aku kirim barusan ini udah bagus ngga sih. Mampus dah kalau dia nelpon balik. Atau mungkin langsung dibalas seperti ini, "ah kurang kerjaan nih orang" atau lebih sadisnya lagi sudah baca langsung delete. Sementara berpikiran aneh-aneh, aku tiba-tiba mendengar lagunya sheila on 7-pemuja rahasia yang asalnya dari meja itu.
Terima kasih !
New message from : Rh3nY Sw33t
Cuek banget sih Ren? apakah kamu tidak sadar jika ada seseorang yang ngga waras ini sangat memujamu. Sudah 3 tahun aku memerhatikanmu, kamu di jurusan sastra aku di jurusan ekonomi. Aku ngga ada keberanian untuk mau kenalan denganmu cukup dengan pandangan matamu itu sudah menyihir tubuhku menjadi kaku sehingga tak mampu mengeluarkan satu katapun. Jujur baru pertama kali ini aku melihat mata seindah ini. Agak bulat dengan bulunya yang panjang melengkung. Tiap jam 11, aku sudah berada di bawah pohon besar depan kelasmu. Tempat ini sangat strategis untuk bisa melihat semua gerak-gerikmu. Aku tahu pada jam 11 itu, pasti kamu ke kantin kalau bukan untuk makan yah baca buku-buku sastra.
Kadang tiap hari aku sms dia nanyain kabar, ngasih perhatian dan balasannya cukup singkat dan padat yaitu Terima Kasih yah...! Ada suatu momen waktu aku sms dia, dia cukup respon. aku tahu dia pasti penasaran ma aku. Aku berhasil membuatnya penasaran. Thanks Adi, kamu adalah pahlawanku, cuma heran aja darimana kamu bisa dapat nomornya padahal kita beda fakultas, trus katanya memang cuma orang terdekatnya aja yang tahu nomornya. Ah, bodoh amat, yang jelas aku sudah sms-an ama cintaku tercinta. Bagiku itu sudah kemajuan yang luar biasa. Yang bikin besar kepalaku ketika Reni di smsnya bilang "kamu puitis juga, jadi penasaran mau lihat orangnya". Hatiku berbunga-bunga, pikiranku melayang-layang. yang ada dibenakku cuma Reni, Reni dan Reni.
"Aku melihat tanah lapang yang dipenuhi bunga-bunga mawar dan dibalik pohon rimbun itu Reni dengan selendangnya melingkari leher lembutnya yang putih mulus bersembunyi dariku, aku mendekatinya iya menghindar.oh ternyata ia ingin diburu, kami pun saling kejar-kejaran, berlari-lari kecil sambil memutari pohon rimbun itu". Trrreeeeeetttt.....!!! "Qino....!!! bangun udah kesiangan tuh, katanya ada janji ?" Teriak ibu,di balik pintu kamarku. Iyaaaaaa, udah bangun kok. Ah Ibu mengganggu sj, padahal mimpinya lagi seru-serunya. Astaga udah jam berapa sekarang, mati aku tadi malam kan aku udah sepakat sama Reni untuk ketemuan di kantin kampus jam 10. Kurang 15 menit lagi jam 10, aku bergegas mandi lalu sarapan. Pas jam 10 baru aku berangkat ke kampus, dengan terburu-buru sampai lupa pamitan sama ibu. Maaf yah bu, aku udah ngga sabaran ketemu Reni. Gas motorku langsung kutancap, biar polisi tidur aku hajar. Aku lihat di speedometer dikisaran 120 km/jam. Putih...!
"Qino, ibu sudah bilang kan kalau baru bangun itu jangan langsung bangun begitu saja. Tenangkan dulu dirimu dan periksa nafas hidungmu". "Ibuku selalu mengajarkan kepada saya budaya orang-orang dulu yang katanya kita harus memeriksa nafas hidung setelah baru bangun dari tidur, atau mau keluar rumah. Jika lubang hidung sebelah kiri yang lebih kencang maka anggota badan sebelah kiri pula yang harus memulai aktifitasnya begitupun sebaliknya. Aku baru sadar kalau aku berada di Rumah Sakit dan sudah 3 jam aku pingsan. Aku melihat perawat-perawat mondar mandir sibuk ngurusin pasien-pasien di UGD ini. Yang ada di depanku cuma Ibuku seorang, kakak dan ayah saya kata ibu sementara di jalan. Lukaku cukup parah, bagian yang paling sakit kurasa di bagian leher dan pipi. kayaknya pusat lukaku yang parah ada pada bagian wajah deh. Aku merasa di bagian kaki dan lengan ngga apa-apa. Yang sakit cuma di pipi ini, mungkin waktu saya tabrak mobil itu, yang duluan kena benturan muka saya. Yang aku lihat terakhir adalah nenek yang menyebrang di jalan kuhindari kemudian dari arah berlawanan ada mobil yang juga melaju dengan kencang, setelah itu aku cuma melihat warna putih seperti blitz foto.
3 buah gigi saya tanggal, pas bagian depan atas dan bawah. Hingga kelihatan seperti nenek-nenek yang di panti jompo itu. Pipi sebelah kanan saya penuh goresan aspal, dan berwarna putih. Daging halus kulitku mungkin terkupas oleh aspal jalan yang panas itu. Untung di bagian kepala saya baik-baik saja. Melihat kondisiku sekarang ini aku jadi teringat Reni. Perasaanku yang tadi pagi yang begitu semangat sudah hilang entah berantah menjadikan ciut nyali ini, Aku drop, aku down melihat kondisiku ini. Rasanya tak ada lagi semangat hidup, baiknya aku buang jauh-jauh saja harapku ini pada seseorang yang sangat aku cintai, Seorang yang sudah membuatku tergila-gila selama 3 tahun belakangan ini. Aku menjadi minder, bahkan pada perawat wanita itu saja aku malu apalagi sama Reni yang notabene adalah idolaku. Gimana kabar Reni yah, padahal tadi pagi aku janjian ketemua ma dia. Pupus sudah harapku, pasti dia berpikir, ntu cowok katanya fans banget buktinya ngga nepatin janji mau ketemuan.
"Bu mana ponsel ku ? tuh, di atas meja. 1 Panggilan tak terjawab dan 2 sms baru. Smuanya dari Reni".
"Qino, dimana skrg ?aku udah di kantin nih, kamu pake baju warna apa ?"
Sms keduanya, "Capek deh,...aku balik yah !!!"
Aku tak tahu mau bilang apa, aku ngga balas smsnya. aku pasrah, ngga akan mungkin bisa dapatin Reni, melihat kondisiku sekarang ini. Tidak memungkinkan.
Sudah 3 bulan aku di rumah padahal udah baikan tapi belum juga kepengen pergi ke kampus, Aku trauma aku malu melihat bekas luka ini di wajahku, cacat seumur hidup. Anak semuda ini udah memakai gigi palsu, kasihan. Begitupun jadwal harian menghubungi Reni udah ngga aku lakukan. Semenjak kejadian itu aku udah ngga pernah lagi menghubungi Reni, Reni pun sebaliknya. Kayaknya aku harus benar-benar melupakan impianku akan Reni. Lagian dia juga belum tahu siapa saya, bagaimana orangnya.
Adi adalah sahabatku yang paling baik, dia yang selalu memberiku motivasi untuk kembali bergairah menjalani kehidupanku sebagaimana mestinya. "Hei Qino, apa kamu pikir dengan berdiam diri seperti ini semua akan menjadi lebih baik ? coba kau lihat orang-orang cacat di pinggir jalan itu, yang di lampu merah itu. Yang bahkan lebih parah darimu, mereka tidak punya lengan, bahkan ada yang udah ngga ada kakinya, tapi mereka semua ikhlas menerimanya dan menghadapinya dengan senyuman. Jangan kau pikir udah ngga ada yang mau lagi berteman denganmu, atau udah ngga ada lagi perempuan yang mau denganmu. Kamu keliru kawan, masih banyak orang yang bisa menerima kita apa adanya bukan ada apanya. Mataku sempat berkaca-kaca ketika melihat Adi yang dengan semangat bertutur memberikanku motivasi. Terima kasih kawan, engkau memang teman ku yang paling baik.
Hari ini, hari pertamaku masuk kuliah, Aku memeriksa nafas hidungku sebelum melangkah keluar rumah, Sekarang ini aku ngga mau lagi naik motor, lebih baih naik angkot saja. Aku jadi takut kalau naik motor. Mungkin kecelakaan itu yang membuatku jadi trauma. Ini adalah ujian pertamaku menghadapi rasa minderku di hadapan banyak orang. Aku berjalan tertunduk menuju kelasku, aku tidak berani melihat wajah orang-orang itu. Ketika sampai pas depan kelasku, Reni lewat dihadapanku. Bikin aku salah tingkah, Wanginya membiusku serasa berada di taman bunga. Harum semerbak. Semakin dekat dia berjalan keringatku semakin mengalir deras keluar dari pori-poriku. Oh Tuhan dia tersenyum kepadaku sambil berlalu. Aku yakin dia tersenyum kepadaku karena ngga ada lagi orang di belakang saya. Cuma aku sendiri. Betul-betul cewek idolaku tuh, udah cantik, pintar, sholeha, murah senyum lagi.
"Reni......!!! Tunggu sebentar", entah dari mana tuh suara ngebass. Aku balik kiri kanan ngga ada siapa-siapa. "yah kenapa ..???", Reni langsung membalikkan badannya pas berhadapan denganku. "bu...bu.. bukan saya mbak yang panggil...!", Sahutku agak grogi. "Reni aku di sebelahmu..!" di balik jendela... Oh ternyata adi toh. Kenapa di ?. Ada yang nitip salam Ren, dia udah 3 tahun Perhatiin kamu. Itu orangnya...!!!
"Oh, jadi kamu yang namanya Qino !!! Hai, pa kabar ? kok ngga pernah ada kabar lagi sih ?". "eh..e..anu. Aku kebelet pipis." Aku langsung lari terbirit-birit meninggalkan mereka. Maafkan aku ren, aku sangat malu berhadapan denganmu. Aku tak tahan ditatap oleh mata indahmu itu.
Huh, malam ini aku ngga bisa tidur. Hening menghampiriku cuma bayangan reni yang menemaniku. Kejadian tadi siang trus melayang di otakku. Tiba-tiba ponselku berdering, ada panggilan masuk. Aku lihat namanya Rh3nY Sw33t.
Ha..Hallo, Assalamualaikum....!
"Waalaikumsalam, dengan Qino ?"
i..iya ini Qino...
"Mengganggu ngga ?"
ah, ngga kok...
"kok kamu gitu sih ?"
oh iya, maaf yah Ren. Aku sangat malu tadi, aku belum siap.
"Aku sudah dengar semua tentangmu dari Adi, aku bersyukur banget punya admirer kayak kamu yang benar-benar tulus. Sebenarnya udah lama aku mau cerita ke kamu satu hal yang mungkin kamu belum tahu."
Apa itu Ren ?
"Aku senang banget bisa kenal ma kamu, semoga kita bisa menjadi teman atau sahabat yang baik. Qino, ada seseorang yang sudah lebih dulu membangun pondasi benteng cinta ini dan berdiri sangat kokoh. Maafkan aku jika yang saya ucapkan ini tidak enak untukmu tapi satu hal, saya sangat benci kepada orang-orang yang dulunya ingin dekat sama saya tapi ketika sudah tahu berita ini, jejak mereka tiba-tiba hilang sedikit demi sedikit. yang aku harapkan darimu Qino, kamu tetap seperti yang kemarin aja".
Kini tlah kusesali tapi kuingin kau bahagia, teruslah kau tersenyum dan hiduplah dengan cintanya. Biar kusimpan bayangmu dihatiku selalu selamanya. Dan bila nati kau sudah tak bersamanya, ku masih membuka pintu hati ini yang slalu kujaga untukmu...
...:::mungkin bersambung:::...
By Your Secret Admire...
Message sent : Rh3nY Sw33t
Delivered
Perasaanku saat ini lagi ngga tenang dan gelisah, kira-kira sms yang aku kirim barusan ini udah bagus ngga sih. Mampus dah kalau dia nelpon balik. Atau mungkin langsung dibalas seperti ini, "ah kurang kerjaan nih orang" atau lebih sadisnya lagi sudah baca langsung delete. Sementara berpikiran aneh-aneh, aku tiba-tiba mendengar lagunya sheila on 7-pemuja rahasia yang asalnya dari meja itu.
Terima kasih !
New message from : Rh3nY Sw33t
Cuek banget sih Ren? apakah kamu tidak sadar jika ada seseorang yang ngga waras ini sangat memujamu. Sudah 3 tahun aku memerhatikanmu, kamu di jurusan sastra aku di jurusan ekonomi. Aku ngga ada keberanian untuk mau kenalan denganmu cukup dengan pandangan matamu itu sudah menyihir tubuhku menjadi kaku sehingga tak mampu mengeluarkan satu katapun. Jujur baru pertama kali ini aku melihat mata seindah ini. Agak bulat dengan bulunya yang panjang melengkung. Tiap jam 11, aku sudah berada di bawah pohon besar depan kelasmu. Tempat ini sangat strategis untuk bisa melihat semua gerak-gerikmu. Aku tahu pada jam 11 itu, pasti kamu ke kantin kalau bukan untuk makan yah baca buku-buku sastra.
Kadang tiap hari aku sms dia nanyain kabar, ngasih perhatian dan balasannya cukup singkat dan padat yaitu Terima Kasih yah...! Ada suatu momen waktu aku sms dia, dia cukup respon. aku tahu dia pasti penasaran ma aku. Aku berhasil membuatnya penasaran. Thanks Adi, kamu adalah pahlawanku, cuma heran aja darimana kamu bisa dapat nomornya padahal kita beda fakultas, trus katanya memang cuma orang terdekatnya aja yang tahu nomornya. Ah, bodoh amat, yang jelas aku sudah sms-an ama cintaku tercinta. Bagiku itu sudah kemajuan yang luar biasa. Yang bikin besar kepalaku ketika Reni di smsnya bilang "kamu puitis juga, jadi penasaran mau lihat orangnya". Hatiku berbunga-bunga, pikiranku melayang-layang. yang ada dibenakku cuma Reni, Reni dan Reni.
"Aku melihat tanah lapang yang dipenuhi bunga-bunga mawar dan dibalik pohon rimbun itu Reni dengan selendangnya melingkari leher lembutnya yang putih mulus bersembunyi dariku, aku mendekatinya iya menghindar.oh ternyata ia ingin diburu, kami pun saling kejar-kejaran, berlari-lari kecil sambil memutari pohon rimbun itu". Trrreeeeeetttt.....!!! "Qino....!!! bangun udah kesiangan tuh, katanya ada janji ?" Teriak ibu,di balik pintu kamarku. Iyaaaaaa, udah bangun kok. Ah Ibu mengganggu sj, padahal mimpinya lagi seru-serunya. Astaga udah jam berapa sekarang, mati aku tadi malam kan aku udah sepakat sama Reni untuk ketemuan di kantin kampus jam 10. Kurang 15 menit lagi jam 10, aku bergegas mandi lalu sarapan. Pas jam 10 baru aku berangkat ke kampus, dengan terburu-buru sampai lupa pamitan sama ibu. Maaf yah bu, aku udah ngga sabaran ketemu Reni. Gas motorku langsung kutancap, biar polisi tidur aku hajar. Aku lihat di speedometer dikisaran 120 km/jam. Putih...!
"Qino, ibu sudah bilang kan kalau baru bangun itu jangan langsung bangun begitu saja. Tenangkan dulu dirimu dan periksa nafas hidungmu". "Ibuku selalu mengajarkan kepada saya budaya orang-orang dulu yang katanya kita harus memeriksa nafas hidung setelah baru bangun dari tidur, atau mau keluar rumah. Jika lubang hidung sebelah kiri yang lebih kencang maka anggota badan sebelah kiri pula yang harus memulai aktifitasnya begitupun sebaliknya. Aku baru sadar kalau aku berada di Rumah Sakit dan sudah 3 jam aku pingsan. Aku melihat perawat-perawat mondar mandir sibuk ngurusin pasien-pasien di UGD ini. Yang ada di depanku cuma Ibuku seorang, kakak dan ayah saya kata ibu sementara di jalan. Lukaku cukup parah, bagian yang paling sakit kurasa di bagian leher dan pipi. kayaknya pusat lukaku yang parah ada pada bagian wajah deh. Aku merasa di bagian kaki dan lengan ngga apa-apa. Yang sakit cuma di pipi ini, mungkin waktu saya tabrak mobil itu, yang duluan kena benturan muka saya. Yang aku lihat terakhir adalah nenek yang menyebrang di jalan kuhindari kemudian dari arah berlawanan ada mobil yang juga melaju dengan kencang, setelah itu aku cuma melihat warna putih seperti blitz foto.
3 buah gigi saya tanggal, pas bagian depan atas dan bawah. Hingga kelihatan seperti nenek-nenek yang di panti jompo itu. Pipi sebelah kanan saya penuh goresan aspal, dan berwarna putih. Daging halus kulitku mungkin terkupas oleh aspal jalan yang panas itu. Untung di bagian kepala saya baik-baik saja. Melihat kondisiku sekarang ini aku jadi teringat Reni. Perasaanku yang tadi pagi yang begitu semangat sudah hilang entah berantah menjadikan ciut nyali ini, Aku drop, aku down melihat kondisiku ini. Rasanya tak ada lagi semangat hidup, baiknya aku buang jauh-jauh saja harapku ini pada seseorang yang sangat aku cintai, Seorang yang sudah membuatku tergila-gila selama 3 tahun belakangan ini. Aku menjadi minder, bahkan pada perawat wanita itu saja aku malu apalagi sama Reni yang notabene adalah idolaku. Gimana kabar Reni yah, padahal tadi pagi aku janjian ketemua ma dia. Pupus sudah harapku, pasti dia berpikir, ntu cowok katanya fans banget buktinya ngga nepatin janji mau ketemuan.
"Bu mana ponsel ku ? tuh, di atas meja. 1 Panggilan tak terjawab dan 2 sms baru. Smuanya dari Reni".
"Qino, dimana skrg ?aku udah di kantin nih, kamu pake baju warna apa ?"
Sms keduanya, "Capek deh,...aku balik yah !!!"
Aku tak tahu mau bilang apa, aku ngga balas smsnya. aku pasrah, ngga akan mungkin bisa dapatin Reni, melihat kondisiku sekarang ini. Tidak memungkinkan.
***
Sudah 3 bulan aku di rumah padahal udah baikan tapi belum juga kepengen pergi ke kampus, Aku trauma aku malu melihat bekas luka ini di wajahku, cacat seumur hidup. Anak semuda ini udah memakai gigi palsu, kasihan. Begitupun jadwal harian menghubungi Reni udah ngga aku lakukan. Semenjak kejadian itu aku udah ngga pernah lagi menghubungi Reni, Reni pun sebaliknya. Kayaknya aku harus benar-benar melupakan impianku akan Reni. Lagian dia juga belum tahu siapa saya, bagaimana orangnya.
Adi adalah sahabatku yang paling baik, dia yang selalu memberiku motivasi untuk kembali bergairah menjalani kehidupanku sebagaimana mestinya. "Hei Qino, apa kamu pikir dengan berdiam diri seperti ini semua akan menjadi lebih baik ? coba kau lihat orang-orang cacat di pinggir jalan itu, yang di lampu merah itu. Yang bahkan lebih parah darimu, mereka tidak punya lengan, bahkan ada yang udah ngga ada kakinya, tapi mereka semua ikhlas menerimanya dan menghadapinya dengan senyuman. Jangan kau pikir udah ngga ada yang mau lagi berteman denganmu, atau udah ngga ada lagi perempuan yang mau denganmu. Kamu keliru kawan, masih banyak orang yang bisa menerima kita apa adanya bukan ada apanya. Mataku sempat berkaca-kaca ketika melihat Adi yang dengan semangat bertutur memberikanku motivasi. Terima kasih kawan, engkau memang teman ku yang paling baik.
***
Hari ini, hari pertamaku masuk kuliah, Aku memeriksa nafas hidungku sebelum melangkah keluar rumah, Sekarang ini aku ngga mau lagi naik motor, lebih baih naik angkot saja. Aku jadi takut kalau naik motor. Mungkin kecelakaan itu yang membuatku jadi trauma. Ini adalah ujian pertamaku menghadapi rasa minderku di hadapan banyak orang. Aku berjalan tertunduk menuju kelasku, aku tidak berani melihat wajah orang-orang itu. Ketika sampai pas depan kelasku, Reni lewat dihadapanku. Bikin aku salah tingkah, Wanginya membiusku serasa berada di taman bunga. Harum semerbak. Semakin dekat dia berjalan keringatku semakin mengalir deras keluar dari pori-poriku. Oh Tuhan dia tersenyum kepadaku sambil berlalu. Aku yakin dia tersenyum kepadaku karena ngga ada lagi orang di belakang saya. Cuma aku sendiri. Betul-betul cewek idolaku tuh, udah cantik, pintar, sholeha, murah senyum lagi.
"Reni......!!! Tunggu sebentar", entah dari mana tuh suara ngebass. Aku balik kiri kanan ngga ada siapa-siapa. "yah kenapa ..???", Reni langsung membalikkan badannya pas berhadapan denganku. "bu...bu.. bukan saya mbak yang panggil...!", Sahutku agak grogi. "Reni aku di sebelahmu..!" di balik jendela... Oh ternyata adi toh. Kenapa di ?. Ada yang nitip salam Ren, dia udah 3 tahun Perhatiin kamu. Itu orangnya...!!!
"Oh, jadi kamu yang namanya Qino !!! Hai, pa kabar ? kok ngga pernah ada kabar lagi sih ?". "eh..e..anu. Aku kebelet pipis." Aku langsung lari terbirit-birit meninggalkan mereka. Maafkan aku ren, aku sangat malu berhadapan denganmu. Aku tak tahan ditatap oleh mata indahmu itu.
Huh, malam ini aku ngga bisa tidur. Hening menghampiriku cuma bayangan reni yang menemaniku. Kejadian tadi siang trus melayang di otakku. Tiba-tiba ponselku berdering, ada panggilan masuk. Aku lihat namanya Rh3nY Sw33t.
Ha..Hallo, Assalamualaikum....!
"Waalaikumsalam, dengan Qino ?"
i..iya ini Qino...
"Mengganggu ngga ?"
ah, ngga kok...
"kok kamu gitu sih ?"
oh iya, maaf yah Ren. Aku sangat malu tadi, aku belum siap.
"Aku sudah dengar semua tentangmu dari Adi, aku bersyukur banget punya admirer kayak kamu yang benar-benar tulus. Sebenarnya udah lama aku mau cerita ke kamu satu hal yang mungkin kamu belum tahu."
Apa itu Ren ?
"Aku senang banget bisa kenal ma kamu, semoga kita bisa menjadi teman atau sahabat yang baik. Qino, ada seseorang yang sudah lebih dulu membangun pondasi benteng cinta ini dan berdiri sangat kokoh. Maafkan aku jika yang saya ucapkan ini tidak enak untukmu tapi satu hal, saya sangat benci kepada orang-orang yang dulunya ingin dekat sama saya tapi ketika sudah tahu berita ini, jejak mereka tiba-tiba hilang sedikit demi sedikit. yang aku harapkan darimu Qino, kamu tetap seperti yang kemarin aja".
***
Kini tlah kusesali tapi kuingin kau bahagia, teruslah kau tersenyum dan hiduplah dengan cintanya. Biar kusimpan bayangmu dihatiku selalu selamanya. Dan bila nati kau sudah tak bersamanya, ku masih membuka pintu hati ini yang slalu kujaga untukmu...
...:::mungkin bersambung:::...
Rabu, 28 Januari 2009
Cerita Pendek | Aku Ikhlas Tuhan
Aku datang pada moment yang tepat. Membawa sebuah harapan untukmu. Ketika kamu mengalami badai cinta yang sangat dahsyat. Mungkin Tuhan mengirimku untukmu.Pada masa transisi ini, adalah hal yang sangat berat untuk kujalani, Aku tahu kamu masih mencintainya meskipun dia sudah meluluhlantakkan pondasi cintamu. Aku tahu kamu masih memikirkannya, Aku tahu itu...
Akupun terus bertanya pada diri sendiri, mengapa kamu sulit untuk melupakannya. Hingga akhirnya waktu pun menjawab. Ketika pada suatu kesempatan itu tepatnya di kantin kampus, setelah makan bersama dengannya, dia memberikan suatu pertanyaan yang agak aneh menurutku dengan wajah yang serius. Pertanyaannya seperti ini, " Sayang, Tahu tidak kenapa harga kue di Mall itu lebih mahal dibanding kue yang di jual di pasar?padahal kuenya sama persis". Aku cuma diam sejenak dengan mengerutkan dahi menatapnya kemudian berkata, "Jelaslah beda harganya, kan orang-orang suka yang bersih dan higinis jadi biarpun agak mahal, orang lebih memilih yang bersih, ngga sama yang di jual di pasar yang ngga bisa dijamin kebersihannya". Dia tampak serius menyimak jawabanku itu. Aku kaget melihat matanya berkaca-kaca, yang tinggal dikedipkan maka akan tumpah ruah air matanya. Aku cuma bisa bilang, "kenapa sayang ada yang salah dengan ucapanku barusan?". Dia cuma diam menatapku yang juga dengan sendirinya air matanya mengalir tak tertahankan. Dia memegang tanganku erat-erat, air matanya masih terus mengalir tanpa paksaam.
"Sayang, aku ini adalah kue yang berada di pasar itu tidak sama dengan kue yang di Mall itu yang terbungkus dengan rapi sehingga kelihatan bersih. Aku tidak seperti yang kamu bayangkan, maafkan aku, aku kotor aku tidak suci lagi, dia sudah memodifikasi aku menjadi seperti ini...Sayang kamu tahu maksud aku kan ? kenapa kamu masih duduk di tempat ini ? "
Diam...hening...sekitar 10 menit serasa waktu ini berhenti berjalan...
Aku tak tahu mau bilang apa, aku shock, hatiku hancur dan tulang-tulangku serasa retak smua. nafasku tidak beraturan. tak kurasa air mataku menetes juga. Tuhan apakah Engkau benar-benar mengirimkanku untuknya ? dari awal aku melihatnya, mengenalnya, jantung ini slalu saja berdebar jika bersamanya, aku sangat mencintainya. Mungkin inilah arti cinta yang sebenarnya, yah kali ini aku mengalaminya, Cinta yang sejati Cinta yang tidak menuntut kesempurnaan. Perasaan ini betul-betul saya rasakan.
Aku ikhlas Tuhan menerimanya apa adanya, walaupun sulit untuk menyikapi kenyataan pahit ini. Aku Ikhlas Tuhan, Aku Ikhlas Tuhan, Aku Ikhlas Tuhan...
Sekian...
Akupun terus bertanya pada diri sendiri, mengapa kamu sulit untuk melupakannya. Hingga akhirnya waktu pun menjawab. Ketika pada suatu kesempatan itu tepatnya di kantin kampus, setelah makan bersama dengannya, dia memberikan suatu pertanyaan yang agak aneh menurutku dengan wajah yang serius. Pertanyaannya seperti ini, " Sayang, Tahu tidak kenapa harga kue di Mall itu lebih mahal dibanding kue yang di jual di pasar?padahal kuenya sama persis". Aku cuma diam sejenak dengan mengerutkan dahi menatapnya kemudian berkata, "Jelaslah beda harganya, kan orang-orang suka yang bersih dan higinis jadi biarpun agak mahal, orang lebih memilih yang bersih, ngga sama yang di jual di pasar yang ngga bisa dijamin kebersihannya". Dia tampak serius menyimak jawabanku itu. Aku kaget melihat matanya berkaca-kaca, yang tinggal dikedipkan maka akan tumpah ruah air matanya. Aku cuma bisa bilang, "kenapa sayang ada yang salah dengan ucapanku barusan?". Dia cuma diam menatapku yang juga dengan sendirinya air matanya mengalir tak tertahankan. Dia memegang tanganku erat-erat, air matanya masih terus mengalir tanpa paksaam.
"Sayang, aku ini adalah kue yang berada di pasar itu tidak sama dengan kue yang di Mall itu yang terbungkus dengan rapi sehingga kelihatan bersih. Aku tidak seperti yang kamu bayangkan, maafkan aku, aku kotor aku tidak suci lagi, dia sudah memodifikasi aku menjadi seperti ini...Sayang kamu tahu maksud aku kan ? kenapa kamu masih duduk di tempat ini ? "
Diam...hening...sekitar 10 menit serasa waktu ini berhenti berjalan...
Aku tak tahu mau bilang apa, aku shock, hatiku hancur dan tulang-tulangku serasa retak smua. nafasku tidak beraturan. tak kurasa air mataku menetes juga. Tuhan apakah Engkau benar-benar mengirimkanku untuknya ? dari awal aku melihatnya, mengenalnya, jantung ini slalu saja berdebar jika bersamanya, aku sangat mencintainya. Mungkin inilah arti cinta yang sebenarnya, yah kali ini aku mengalaminya, Cinta yang sejati Cinta yang tidak menuntut kesempurnaan. Perasaan ini betul-betul saya rasakan.
Aku ikhlas Tuhan menerimanya apa adanya, walaupun sulit untuk menyikapi kenyataan pahit ini. Aku Ikhlas Tuhan, Aku Ikhlas Tuhan, Aku Ikhlas Tuhan...
Sekian...
Sabtu, 24 Januari 2009
Cerita Pendek | Berjalan Bersama Suara
Udara terasa begitu panas malam ini hingga sedikit pun aku tak mampu memejamkan mata, padahal mataku terasa berat. Pikiranku melancong dalam kegamangan, namun apapun yang telah terjadi dan akan terjadi adalah sebuah realita yang harus aku hadapi, tak mungkin untuk kuhindari selangkah pun. Lambat laun mataku terpejam, sukmaku menuju sebuah ruang kosong di awang-awang.
Dalam mimpiku serasa aku aku sedang berjalan menyusuri pantai bersama suara, saat itu langit berubah layaknya layar yang memperlihatkan semua episode kehidupanku. Pada setiap episode, aku melihat dua pasang jejak kaki di pasir, sepasang jejak kaiku dan sepasang lagi adalah jejak kaki Tuhan. Setelah episode terakhir dalam kehidupanku yang terhampar di layar langit, aku menoleh kebelakang melihat jejak kaki di pasir.
Kuperhatikan, berkali-kali sepanjang perjalanan hidupku, terutama pada saat-saat paling mengkhawatirkan dan menakutkan, hanya terdapat sepasang jejak kaki saja. Apa yang kulihat itu benar-benar membuatku kecewa, lalu aku bertanya pada Tuhan, "Tuhan, dimanakah Engkau ? Engkau mengatakan bahwaEngkau selalu melindungi umatmu disepanjang jalan hidupnya. Namun aku melihat bahwa pada saat aku kesulitan, ketakutan, dan membutuhkan Engkau, serta beban berat melindas hidupku, hanya terdapat sepasang jejak kaki, aku menjadi tidak mengerti mengapa saat aku membutuhkan Engkau, justru Engkau meninggalkan aku ?" lalu suara itu menjawab, "Ketahuilah , engkau sangat berharga di mata-Ku, Aku sangat mengasihi engkau dan tidak akan meninggalkan engkau sekejap pun. pada waktu engkau dalam bahaya dan dalam penderitaan, engkau hanya melihat sepasang jejak kaki saja, karena pada waktu itu Aku menggendongmu."
Penggalan cerita pendek di atas adalah kutipan dari novel "Karena Aku Iblis" karya Hari Andri Winarso. Saya sengaja memasukkan kutipan di atas guna untuk merenungi agar kita jangan selalu mengeluh, selalu menyerah dengan apa saja masalah yang kita hadapi karena kita harus yakini bahwa Tuhan selalu ada untuk kita semua.
Kuperhatikan, berkali-kali sepanjang perjalanan hidupku, terutama pada saat-saat paling mengkhawatirkan dan menakutkan, hanya terdapat sepasang jejak kaki saja. Apa yang kulihat itu benar-benar membuatku kecewa, lalu aku bertanya pada Tuhan, "Tuhan, dimanakah Engkau ? Engkau mengatakan bahwaEngkau selalu melindungi umatmu disepanjang jalan hidupnya. Namun aku melihat bahwa pada saat aku kesulitan, ketakutan, dan membutuhkan Engkau, serta beban berat melindas hidupku, hanya terdapat sepasang jejak kaki, aku menjadi tidak mengerti mengapa saat aku membutuhkan Engkau, justru Engkau meninggalkan aku ?" lalu suara itu menjawab, "Ketahuilah , engkau sangat berharga di mata-Ku, Aku sangat mengasihi engkau dan tidak akan meninggalkan engkau sekejap pun. pada waktu engkau dalam bahaya dan dalam penderitaan, engkau hanya melihat sepasang jejak kaki saja, karena pada waktu itu Aku menggendongmu."
Penggalan cerita pendek di atas adalah kutipan dari novel "Karena Aku Iblis" karya Hari Andri Winarso. Saya sengaja memasukkan kutipan di atas guna untuk merenungi agar kita jangan selalu mengeluh, selalu menyerah dengan apa saja masalah yang kita hadapi karena kita harus yakini bahwa Tuhan selalu ada untuk kita semua.
Kamis, 22 Januari 2009
Cerita Pendek | Di Ujung Lorong
Kali ini saya coba ingin membuat sebuah cerita pendek menurut pengalaman yang saya alami tadi pagi. Langsung saja ini dia the first dengan judul Di Ujung Lorong. Enjoy yah, setelah membacanya diharap tenang, tidak mengerutkan dahi dan tetap stay cool. Ok.
Hari ini aku ada janji dengan temanku, Ippank untuk menyelesaikan tugas laporan KKLP kita yang wajib dikumpul besok lusa. Di perjalanan ke rumahnya, tak seperti biasa yang aku lihat di pinggiran jalan banyak sekali terpampang sebuah foto-foto potret diri di tiang listrik, di pohon, di tembok pertokoan padahal kemarin aku lewat jalan ini masih bersih kok.
Hari ini aku ada janji dengan temanku, Ippank untuk menyelesaikan tugas laporan KKLP kita yang wajib dikumpul besok lusa. Di perjalanan ke rumahnya, tak seperti biasa yang aku lihat di pinggiran jalan banyak sekali terpampang sebuah foto-foto potret diri di tiang listrik, di pohon, di tembok pertokoan padahal kemarin aku lewat jalan ini masih bersih kok.
Gambar foto-foto itu membuatku tersenyum cengingisan betapa tidak wajahnya beda-beda ada yang sudah tua, sudah keriput, ada yang masih muda mungkin seumuran aku, bergaya bagai model. Tersenyum dengan aura ambisi yang kental menurutku. Sudah sekitar 3 kilo, masih saja gambar foto-foto yang membosankan itu terpampang dengan rapi sampai akhirnya di depan warung kopi Putri tidak ada lagi. Ada-ada saja mereka, memasang gambarnya dengan seenaknya tanpa mau tahu kalau itu dapat merusak keindahan dan kebersihan kota. Pasang sana pasang sini dengan seenaknya, padahal ada aturannya tempat yang diperbolehkan.
Akhirnya sampai juga di rumah Ippank. "kenapa lama sekali Panca ? dari tadi aku tunggu". Teriak Ippank menyambutku di depan pagar rumahnya. "Iya nih, tadi aku agak lambat naik motornya karena sambil liat-liatin baliho para Caleg DPRD itu di pinggir jalan. Dengan entengnya mereka berkata pada balihonya mensejahterakan rakyat, pengawal aspirasi rakyat, pilih yang cerdas,muda,profesional. Dasar Caleg Baliho...mereka kebanyakan cuma bisa berjanji lewat baliho itu, turun dong langsung ke warganya sosialisasi". Ujarku. Ippank cuma bisa ketawa, seakan itu sudah lumrah baginya.
"Ahhhhhh,akhirnya selesai juga". Teriakku dengan semangat. Setelah itu aku langsung pulang ke rumah dan aku harus melewati jalan itu lagi. Ketika melewatinya, aku melihat diantara puluhan baliho itu, ada satu baliho yang membuatku sangat penasaran bentuk model dan isinya. Ukurannya paling kecil dibanding yang lain, tapi menarik buatku. Terpasang di ujung lorong itu dan jauh dari jalan raya. Aku mendekatinya...dan kemudian...ehhh hmmmm...ee..mmm..Huehuehue sowry yah bersambung dulu. capek nih nulis tengah malam udah ngantuk banget.
Akhirnya sampai juga di rumah Ippank. "kenapa lama sekali Panca ? dari tadi aku tunggu". Teriak Ippank menyambutku di depan pagar rumahnya. "Iya nih, tadi aku agak lambat naik motornya karena sambil liat-liatin baliho para Caleg DPRD itu di pinggir jalan. Dengan entengnya mereka berkata pada balihonya mensejahterakan rakyat, pengawal aspirasi rakyat, pilih yang cerdas,muda,profesional. Dasar Caleg Baliho...mereka kebanyakan cuma bisa berjanji lewat baliho itu, turun dong langsung ke warganya sosialisasi". Ujarku. Ippank cuma bisa ketawa, seakan itu sudah lumrah baginya.
"Ahhhhhh,akhirnya selesai juga". Teriakku dengan semangat. Setelah itu aku langsung pulang ke rumah dan aku harus melewati jalan itu lagi. Ketika melewatinya, aku melihat diantara puluhan baliho itu, ada satu baliho yang membuatku sangat penasaran bentuk model dan isinya. Ukurannya paling kecil dibanding yang lain, tapi menarik buatku. Terpasang di ujung lorong itu dan jauh dari jalan raya. Aku mendekatinya...dan kemudian...ehhh hmmmm...ee..mmm..Huehuehue sowry yah bersambung dulu. capek nih nulis tengah malam udah ngantuk banget.
Selasa, 20 Januari 2009
Cerita Pendek | Selamat Datang Sayang
"Selamat Datang Sayang" adalah cerita pendek saya yang pertama. Mohon dikoreksi jika memang harus dikoreksi. Langsung saja ini dia the first :
Selamat Datang Sayang
Terima kasih udah mau datang lagi. Aku udah menantimu setahun ini, perjalanan yang melelahkan buat ku untuk menantimu. Sayang , aku sangat bersyukur Tuhan kembali mengirimmu ke saya kemarin. Dengan kehadiranmu lagi, maka saya dapat merefleksikan apa yang sudah saya dapat dalam hidup ini. Saya akan berusaha menjadi lebih baik lagi sayang dari yang kemarin.
Semoga kamu memaafkan kesalahan-kesalahanku yang kemarin, aku tak tahu bagaimana cara saya membalas seluruh kebaikanmu. Aku cuma mau bilang, selamat datang sayang, selamat datang 19 Januari, bertambah lagi umurku 1 Tahun.
Semoga kamu memaafkan kesalahan-kesalahanku yang kemarin, aku tak tahu bagaimana cara saya membalas seluruh kebaikanmu. Aku cuma mau bilang, selamat datang sayang, selamat datang 19 Januari, bertambah lagi umurku 1 Tahun.